Samarinda Kota Banjir

Samarinda. Ibu kota Propinsi Kalimantan Timur. Salah satu kota di Kalimantan yang sekarang gua tempati. Awal sebelum pindah kesini, katanya biaya hidup di Samarinda tinggi, pake banget lagi. Ya Allah, ternyata bener bingits (kenapa gua jadi alay gini yaa...astaghfirullah, ketularan neh). Emang biaya hidup disini tinggi bro, coba aja nih ya, nasi pecel aja harganya bisa Rp 13.000,- kalo di Bogor atau Jakarta paling Rp 8.000,-. Pecel lele di samarinda harganya bisa Rp 18.000,-, di Jabodetabek paling cuma Rp 12.000,-. Masih banyak lagi deh yang lainnya, mulai dari biaya makanan, minuman, properti, ongkos transportasi, de el el. Kesimpulannya Samarinda biaya hidupnya tinggi!

Samarinda bagus gak sih?? Hehehe...kalo mau tau, langsung datang aja deh ke sini. Ntar dibilang bagus, ternyata loe anggap jelek, dibilang kurang bagus, loe anggep bagus. Tapi nih ya, gua mau cerita salah satu hal dari sekian banyak ciri atau hal-hal yang dimiliki kota Samarinda.

Kota Samarinda ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Punya luas wilayah sebesar 718 km². Sebagian besar penduduknya adalah transmigran dari Pulau Jawa, mungkin sekitar 60%. Selebihnya ada dari Bugis, Banjar, Sunda, dan lain-lain. Itu adalah FAKTA.

Nah, ada 1 hal yang gua gak akan pernah lupa. Samarinda itu kota yang sering kena banjir dan mati lampu. Kalau hujan 2 jam aja...beuh bisa banjir. Dan gak tanggung-tanggung, banjirnya di titik-titik strategis, yaitu jalan-jalan utama. Emang tata kota Samarinda kurang baik, banyak daerah yang memiliki dataran rawan banjir, karena posisinya yang rendah. Selain itu juga, karena drainase (saluran air)-nya gak terawat. Otomatis pas musim hujan datang, ya air sungai Mahakam dan anak sungai Mahakam nggak punya jalan lain selain lewat jalan-jalan raya, alias banjir.

Kabar dari warga yang udah lama tinggal siih, baru sekitar 2-3 tahun belakangan ini aja jadi sering banjir, sekitar tahun 2011an. Hmm, mungkin karena penduduk makin bertambah, sementara perencanaan kotanya gak berjalan. Alhasil, warganya gak pernah berhenti dari masalah banjir.
sumber : yunitayunitaadni.blogspot.com

Ada kalimat sindiran yang nggak asing lagi disini, "Samarinda itu, kalau panas berdebu, kalau hujan banjir". Duuuh, pejabat pemerintah kotanya pada kemana ya? Pemerintah propinsi juga pada kemana ya? Secara Samarinda kan ibu kota propinsi. Masa ibukota propinsinya nggak diurusin. Kacau...!.

Gue pertama kali nginjakin kaki di Samarinda, seminggu kemudian dapet "hadiah" banjir perdana. Mirip greeting gitu. Motor gue kerendam setinggi knalpot,,ampuuuun deeh. Kaget juga pertamanya,huuuh. Kalo motornya nggak bagus enginenya, bisa mati di tengah jalan...ceileeh. Untung aja enginenya masih baru, hehehe. Maklum masih baru motornya..belom 5 taun.


Tapi so far, Samarinda jadi kota ketiga setelah Sumedang dan Bogor. Berikan saya kekuatan untuk bisa bertahan disini ya Allah. All is well...All is well...All is well.
Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//