Ringkasan Retorika Islam


Berikut ini ringkasan dari buku berjudul "Retorika  Islam:Bagaimana seharusnya menampilkan wajah Islam" karya Dr.Yusuf Al-Qardhawi. Buku ini sangat bagus dan wajib dimiliki oleh Anda para penceramah, dai, ustadz, dan umat Islam umumnya.

  • Pengertian Retorika Islam
Retorika Islam ialah penjelasan yang disampaikan atas nama islam kepada sekalian manusia ,orang muslim atau non muslim,untuk mengajak mereka kepada islam,atau mengajarkan keislaman, dan mendidik mereka secara aqidah dan syariah,ibadah dan muamalah,serta memikiran dan tingkah laku. Atau juga menjelaskan posisi islam terhadap problematika kehidupan;manusia dan dunia,individu maupun kelompok,spiritual maupun material,dan teori maupun praktik.

Metode Retorika Islam yang digunakan: bersifat variatif; taradisional maupun modern seperti;khutbah,ceramah,pengajaran,dialog,makalah,paper,buku,seminar,diskusi,penelitian ilmiah,analisis pers dan jurnalistik,program penyiaran radio atau televise,teater,dan bisa menggunakan syair,puisi ,pantun,dan kisah daramatikal. Bisa juga memanfaatkan berbagai sarana komnuikasi dan informasi canggih;media cetak maupun elektronik,visual dan audio visual,baik regional,nasional ataupun internasional saluran satelit hingga jaringan internet.

Agama Islam tidak berubah dalam hal pokok-pokok dan prinsip-prinsip aqidahnya, ibadahnya, akhlaknya, dan hukum syariatnya, tetapi hal yang berubah adalah metode pengajaran dan dakwah kepada agama itu. Perubahan itu dengan adanya perubahan waktu,tempat,adat dan keadaan adalah hal yang lebih tepat dan lebih utama.


Al-Quran sendiri merupakan bukti adanya perubahan retorika
Retorika Al-Quran Makkiyah berbeda dengan retorika Al-Quran Madaniyah. Surat-surat Al-Quran Makkiyah maupun Madaniyah, memperhatikan orang yang diajak bicara dan mengajaknya bicara sesuai dengan kondisinya. Surat-surat Makkiyah meretorika terlebih dahulu kepada orang-orang musrik yang memusuhi aqidah tauhid dan mengingkari kenabian Muhammad SAW, serta yang bertindak dzalim kepadanya. Dengan begitu, retorika ini dipenuhi oleh bahasa yang cukup keras dan penuh ketegasan.

Adapun surat-surat Madaniyah, memiliki bentuk retorika yang berbeda. Dimana sudah terkumpul sebuah jamaah baru dari orang-orang beriman, sehingga konten bahasa Al-Quran surat Madaniyah lebih banyak berisi perintah-perintah dan larangan-larangan, arahan-arahan, dan ketentuan-ketentuan syariat. Oleh sebab itu, retorika disini dipenuhi oleh bahasa kelembutan dan pengajaran. Contoh pada surat Al-Baqarah (surat Madaniyah) dan surat Asyu’araa (surat Makkiyah).

Legalitas Pembaruan Agama
Hadits: “Sesungguhnya Allah mengutus di setiap seratus tahun kepada umat (Islam) ini seseorang yang memperbaharui agama untuknya.(HR.Abu Dawud dan Al-Hakim).
Pembaruan tidaklah menyentuh hal-hal yang Tsawabit (hal-hal yang baku)  yang tidak berubah -ubah dengan perubahan waktu, tempat, dan manusia. Mulai dari sisi aqidah, ibadah, pokok-pokok keutamaan dan keburukan, dan hukum-hukum qath’i dalam wujud ketetapan dan indikasinya. Adapun hal-hal  pembaruan tidak menyentuh hal-hal yang baku tapi dari sisi teknis penyampaian dan pengajarannya kepada manusia.

Menegakkan Kebangkitan
Kebangkitan islam dari fase remaja menuju fase dewasa.faseremaja;dihiasi impian-impian,imajinasi-imajinasi,reaksional dan emosional.fase dewasa;kesadaran,ketenangan, rasionalitas dan pematangan.10 poin garis-garis besar menuju kebangkitan,yakni:
1.dari format dan fenomena menuju substansi dan realita.
2.dari diskusi dan perdebatan menuju pemberian dan aksi.
3.dari emosional dan kesemarawutan menuju rasionalitas dan keilmiahan.
4.dari cabang dan ekor menuju akar dan kepala
5.dari mempermudah dan mempersempit menuju mempermudah dan pemberitaan gembira
6.dari kepasifan dan taklid menuju ijtihad dan pembaruan
7.dari fanatic dan tertutup menuju toleransi dan terbuka
8.dari berlebihan dan melewati batas menuju moderat dan seimbang
9.dari kekerasan dan kedengkian menuju kasih sayang
10.dari perselisihan dan permusuhan menuju persatuan dan kerjasama


RETORIKA DALAM AL-QUR’AN

Metode retorika
Dalil (Q.S An-nahl:125). Seruan ini ditujukan kepada nabi dan siapapun dari umat yang mengikuti jejaknya. Ayat ini berisi prinsip-prinsip pada jalan(metode) yang ideal dalam berdakwah.
Prinsip-prinsip Retorika Islam
Prinsip Pertama,
Mengetahui bahwa dakwah islam adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dalil tersebut tercantum dalam QS.Yusuf:108. Sudah tentu, bentuk dakwah dapat berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan potensinya masing-masing. Metodenya beragam, ada yang melalui ceramah, ada juga yang menyediakan fasilitas-fasilitas dakwah.

"Barang siapa mempersiapkan tentara fi sabilillah maka sesungguhnya ia telah ikut berperang”(HR.Bukhari dan Muslim). Substansi hadits ini memberi peluang untuk mengungkapkan sebuah analogis,yaitu ”Barang siapa mempersiapkan dai/pendakwah fi sabilillah (di jalan Allah), maka sesungguhnya ia telah berdakwah.”
               
Prinsip kedua,
Dakwah rabbaniah ke jalan Allah. Seorang dai tidak mengajak orang lain untuk ikut menuju kelompoknya atau jalannya sendiri, tetapi harus mengajak ke jalan Tuhannya semata. Silakan lihat dalam QS.3:64 & 79.
                
Prinsip ketiga,
Mengajak dengan cara hikmah daan pelajaran yang baik. Cara Hikmah adalah mengajak bicara kepada akal manusia  dengan dalil-dalil ilmiah yang memuaskan dan dengan bukti-bukti logika yang cemerlang.berbicara kepada orang lain dengan sesuatu yang mudah dipahaminya dan diterima oleh akalnya.”ajaklah manusia berbicara dengan sesuatu yang mereka pahami dan tinggalkanlah apa yang mereka pungkiri( susah dipahami),apakah kamu menghendaki apabila Allah dan rosulnya didustakan.(HR.Bukhori).Berbicara kepada seseorang dengan bahasanya termasuk al-hikmah.Berbicara sesuai dengan bahasanya supaya mudah komunikasi timbale balik. (dalil QS.14:4). Orang -orang khusus(berilmu) diajak dengan bahasa mereka,orang yang hidup diabad 21 dengan bahsa mereka.

Hal-hal yang termasuk cara hikmah:
- Bersikap ramah termasuk hikmah, menyiapkan diri terhadap orang-orang yang didakwahi.
- Memperhatikan tingkatan pekerjaan dan kedudukan syariatnya(skala prioritas) termasuk hikmah
- Menyusun pesan-pesan islam dengan baik,sesuai dengan tempat ,waktu, dan tingkatan masing-masing.Kemudian kita sampaikan perintah-perintah dan larangan sesuai prioritasnya itu.
Penyampaian Kewajiban Sholat dilakukan setelah mereka mengetahui Allah.Mengutkan Fondasi (Ushul)dulu kemudian menyeru kepada hal Furu’.
Gerakan bertahap,mengajak manusia secara bertahap.
Metode Gerakan Mau’izhah Hasanah( pelajaran yang baik) mengajak pada hati dan perasaan agar menyadari dan tergerak untuk bertindak.Dua instumen vital pada manusia;yaitu akal dan hati.Akal untuk memahami dan mendalami,sehingga mencapai pengetahuan.Adapun hati untuk merasakan dan menghayati,sehingga timbul kemauan dan emosional,rasa suka atau rasa benci.Dali QS.Al-ma’idah:98.
Wawasan yang harus dimiliki dai: Pengetahuan agama,budaya dan sastra,sejarah,humaniora,sains dan teknologi,dan pengetahuan realita.
Berdialog dengan cara Terbaik
Menggunakan kata-kata yang halus,susunan kalimat yang indah lagi efektif, dan cara pengungkapan yang santun,tidak menyulut emosinya.contoh dialog yang lembut  dalam al-qur’an QS.Saba:24-2.dialog dengan cara terbaik yaitu memusatkan perhatian kepada point-point pembicaraan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak ,mengikis pertentangan.
Berdoa penuh hikamah.Berdoa dengan ungkapan kata-kata yang sejuk.contoh doa dalam alquran: QS.Al-Baqarah;250,QS.Yunus:85-86,
Mengistilah Non-Muslim untuk menyebut orang-orang kafir,di era globalisasi sekarang ini termasuk dakwah dengan cara hikmah.
Menggunakan Istilah warga negara atau penduduk.
Ungkapan “Persaudaraan” dalam hubungan antar manusia untuk menyatakan hubungan dengan non muslim.

Tidak menyimpangkan Ajaran Islam

Karakteristik Retorika Agama yang Ideal:
1.      Beriman Kepada Allah dan tidak mengingkari keberadaan manusia
    Menyeru pada keimanan,meyakinkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah dengan sebaik-baik bentuk,Retorika saat ini selalu membicarakan kewajiban-kewajiban manusia,dan kurang memperhatikan kebebasan manusia dan kemulian manusia sesuai dengan alquran dan hadist.

      Retorika keagamaan harus memberikan perhatian yang sangat besar kepada manusia,penderitaannya,problematikanya, dan ktimpangan-ketimpangan yang telah terjadi diantara mereka.Retorika agama harus andil dalam membebaskan manusia terhadap kepedihan,kegentaran,kegundahan,kepesimisan,dan penyakit-penyakit psikologis lain.

2.       Meyakini wahyu dan tidak menafikan akal
Posisi retorika saat ini ,Salah satu kekurangan saat ini adalah akal dibiarkan bebas tugasnya dari memahami agama dan memahami kehidupan.Akal belum sanggup bangkit menyambut seruan Allah,secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah,untuk merenung,berfikir,mengadakan riset,kreasi dan discovery.

3.       Menyeru kepada spiritual dan tidak meremahkan kepada material
Dimensi Spiritual:1. Keimanan Kepada Allah Ta’ala dan tauhid, dalil QS. Al-An’am:102.
                          2. Keimanan kepada Akhirat,dalil QS. Az-Zalzalah:7-8
                          3. Peribadahan kepada Allah SWT dan Ketakwaan kepadanya,dalil QS.AdzDzariyat:56-58
                          4. Pendekatan diri kepda Allah,dalil QS.Al-Ahzab: 33
                          5. Pembersihan penyakit-penyakit hati dan penyakit mental,dalil QS.Asy-Syu’araa: 87-89
                          6. Pendekatan diri kepada Allah ( QS. Al-Insan: 8-9)

Besarnya perhatian Islam terhadap dimensi spiritual harus jadi focus utama dalam retorika keagamaan kita.Bersamaan itu, tidak boleh melupakan sisi lain berupa dimensi Material.
Memperhatikan Keduniaan dan membangun peradabannya,Dalil QS. Hud: 61;QS. Ibrahim:32-34.Islam menganggap bekerja untuk membangun dunia sebagai amal shaleh,jika didasari niat yang sholeh,memperhatikan ketelitian,dan kecermatan,tidak menzolimi hak orang lain,dan tidak meninggalkan peribadatan kepada ALLAH dalil (QS. An-Nur:37).
Hal yang terpenting adalah adalah seorang mukmin hendaknya memiliki dunia dan tidak dikuasainya.Sebaik-baik harta yang baik berada di tangan orang yang baik.Muamalah dalam harta mengambil bagian yang sangat besar dalam fikih islam,berguna untuk meluruskan interaksi bersandarkan pada asas keadilan dan transparan,terjauhkan dari kezhaliman, penipuan dan perjudian.Seorang muslim yang bekerja secara kompoten di berbagai bidang sesungguhnya dia telah beribadah kepada Allah melalui profesinya.Tentu yang lebih penting lagi Benarnya niat dan tujuan-tujuannya.Jadikan keduniaan tersebut agar sekalian manusia mengetahui tuhan mereka yang sebenarnya,menyembah dengan sebenar-benarnya,dan menjunjung tinggi kalimat Allah Setinggi-tingginya.

4.       Memperhatikan ibadah-ibadah Syar’iyah dan tidak melupakan nilai-nilai moral
Ibadah SYar’iyah adalah ibadah-ibadah yang menjadi pilar-pilar agama,dan menjadi rukun-rukun amaliyahnya seperti; sholat,puasa,haji,zakat dll. Moral (Akhlak) adalah buah dari keimanan:Mencakup; 1. Akhlak Ilmiah, berupa;amanah, tunduk pada objektivitas, berlaku adil, mengakui kesalahan 2.Akhlak individu 3.Akhlak keluarga 4.Akhlak sosial 5.Akhlak Politik 6.Akhlak ekonomi. Retorika saat ini harus memusatkan pada dimensi akhlak yang sedang dilanda krisis.
5.       Berdakwah guna mengagungkan akidah,menyebar toleransi dan kasih sayang
Islam tidak menyebar ke seluruh dunia dengan pedang.Tetapi,ia menyebar dengan kecintaan orang-orang islam kepada sekalian manusia dan kecintaan manusia kepada orang-orang islam.
6.       Memikat dengan hal-hal yang ideal dan peduli terhadap realita
Rretorika agama harus menjaga kesimbangan;mengakui realita dengan kondisi yang menimpanya,akantetapi terus menatapkan pandangan ke depan menuju posisi ideal,bergerak dinamis,secara bertahap. 
7.       Mengajak kepada keseriusan dan konsistensi,dan tidak melupakan berhibur dan beristirahat
Mengajak pada keseriusan,kesemangatan,kesucian, dan konsistensi dalam kehidupan. Dalam waktu yang sama tidak melupakan istirahat dan menghibur diri.
8.       Berorientasi global dan tidak melupakan aksi lokal
Tuntutan yang harus dipenuhi  olehn retorika keagamaan kita dewasa ini adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan-tuntutan universal dan tuntutan lokal.
9.       Mencermati modernitas dan berpegang teguh pada orisionalitas
Fleksibilitas terdapat pada sisi sarana,mekanisme,parsial,yang semuanya,dapat berbeda karena perberbedaan lingkungan,zaman,dan keadaan,bahkan terkadang perbedaan manusia juga.
10.   Bersikap futuristik dan tidak memungkiri masa lalu
11.   Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah
12.   Mengumandangkan ijtihad dan tidak melampaui batasan permanen
13.   Menolak gerakan terorisme yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan
14.   Mengukuhkan eksistensi wanita dan tidak mengikis martabat laki-laki
15.   Melindungi hak-hak kaum minoritas dan menolak arogansi kaum mayoritas

Peringkas: Miftah Faridzi
Editor : Muhamad Saefudin


              
Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//