Survival di Alam Samarinda

Suatu pengalaman yang tak akan tergantikan bagi saya saat berada di Samarinda, Kalimantan Timur, adalah saat mengikuti kegiatan survival di hutan Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS). Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Jumat-Minggu, 16-18 Januari 2015 yakni selama kurang lebih 3 hari 2 malam.

Kegiatan ini menarik sekali bagi saya, karena kita betul-betul latihan survival seperti keadaan yang sebenarnya. Layaknya orang-orang yang terdampar di sebuah pulau. Dengan kondisi nggak punya apa-apa. Kalau pun ada, terbatas yang ada di badan.

Jadi, apa saja peralatan atau kelengkapan yang dibawa?? Berikut ini daftar perlengkapan yang kita bawa.

1) Ponco atau raincoat
2) Senter dan baterai cadangan
3) Korek api
4) Pisau/Golok/Parang
5) Garam
6) Aqua botol kosong
7) Matras

Itulah perlengkapan yang kita bawa masuk ke dalam hutan. Saat dengar penjelasan panitia tentnag kelengkapan tersebut, rasanya jadi tertantang.

Namun, sebelumnya kita selama setengah hari membuat tenda/kemah berkelompok. Dan diadakan beberapa kegiatan sebagai perbekalan pada saat dimulainya survival. Kegiatannya antara lain:
  • Pelatihan navigasi : Semua peserta diberikan pengarahan tentang navigasi. Yakni seputar mencari arah mata angin (utara,timur,barat,selatan) menggunakan alam yaitu bintang. Saya teringatkan lagi pelajaran Geografi sewaktu SMP dan SMA, ada bintang wuluku, bintang kejora, bintang biduk, dan lain-lain. Bintang-bintang itulah yang bisa menunjukkan kita tentang mana arah utara, mana arah selatan, timur, dan barat. Selain itu, diberikan bagaimana menentukan waktu/jam hanya dengan bantuan matahari. Banyak hal pokoknya deh, lain kali saya share pengalaman tentang ini ya (saya catet dulu biar inget, hehe)
  • Melempar kapak : Ini penting. Karena saat memasuki hutan perawan, nggak menutup kemungkinan ada hewan buas yang bisa mengancam nyawa. Atau juga bisa kita temukan hewan yang bisa dimakan, seperti rusa hutan, kancil, ular, dan sebagainya. Inti dari manfaat kemampuan melempar kapak ini adalah untuk bertahan dari gangguan hewan dan mencari bahan makanan dari hewan.
  • Membuat bivak atau tenda sementara. Sangat penting mengenai ini. Kita harus punya skill dalam membuat sebuah tempat untuk berlindung diri saat survival. Kalau saat kita latihan mungkin masih bisa pakai ponco, sebagai perlengkapan yang dibawa. Namun pada kondisi riil, dimana terjadi ketika seseorang terdampar, bivak bisa dibuat dengan ranting-rating pohon, daun-daunan, dan semua yang ada di alam. Bisa juga saat malam hari, waktunya tidur, bisa berlindung di atas dahan pohon yang berbentuk horizontal. Sehingga badan kita menyandar ke batang pohon, sedangkan kaki hingga paha berselonjor dengan posisi diikatkan ke dahan pohon tersebut. Cara ini bisa kita lihat di film "The Hunger Games". Si Katniss Everdeen melakukan trik ini di film tersebut. 
  • Mencari air dan sumber makanan. Ini juga sangat penting. Air yang aman untuk diminum adalah yang tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. Contohnya air sungai, air embun, air dari sisa-sisa hujan yang ada di daun, air yang diperas dari sebuah umbi, dan sebagainya. Adapun makanan yang aman untuk dimakan memiliki ciri-ciri umum: tidak berwarna mencolok dan tidak bergetah. Buah yang berwarna mencolok dan bergetah biasanya dia beracun. Kemudian ciri lainnya adalah ada bekas gigitan binatang. Atau ada ciri dimana bekas binatang makan seperti biji buah yang tersebar di bawah suatu pohon. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa sumber makanan tersebut aman untuk dikonsumsi, karena hewan pun memakannya. Itu prinsip yang dijadikan dasar.
  • Pengetahuan lainnya tentang survival hutan
Nah, beberapa hal yang saya dapatkan dari latihan survival ini adalah:

1) Bertahan di hutan dengan perlengkapan seadanya
Mungkin kita masih mengingat bagaimana pesawat-pesawat beberapa maskapai diberitakan menghilang atau terdampar. Seperti pesawat Adam Air yang hilang atau pesawat Air Asia yang terjatuh?

Pada kondisi ini, dimungkinkan para penumpang akan berada di daratan yang belum diketahui sama sekali. Dengan makanan yang terbatas. Perlengkapan seadanya. Terpencil dan tidak bisa terhubung dengan orang-orang yang berada di kota, intinya terdampar bahasa lainnya.

Maka pada kondisi ini, mental dan kemampuan dalam survival menjadi kunci dalam keberlanjutan hidup ke depannya. Kita pernah dengar sebuah cerita nyata, ada korban kecelakaan pesawat yang bisa selamat dari peristiwa jatuhnya pesawat di sebuah samudra. Ini memang kaitannya lebih pada survival di air, namun kata kuncinya yang bisa dicatat adalah tentang survival. Kabarnya, dia hanya menggunakan kelapa kering untuk mengapung hingga sampai ke daratan, makan makanan seadanya, minum air laut, dsb.

Kemampuan dan mental inilah yang harus kita miliki. Sehingga jika suatu saat kita mendapatkan diri kita berada pada kondisi seperti itu, mampu bertahan hidup menghadapi segala ancaman dan keterbatasan yang ada. Tentu kita nggak pernah berharap terjadi pada kita, tapi kita harus punya bekal skill dan mental survival. Karena jika Tuhan sudah berkehendak, kita tidak akan pernah bisa menolak. Semoga kita selalu dilindungi oleh-Nya.

2) Membuat bivak
Bivak itu tenda sementara. Dimana biasanya bivak dibuat dari ponco (jas hujan lebar, bukan tipe celana).

Caranya cukup simpel, yaitu dengan mengikatkan ke-4 ujung dari ponco ke dahan atau ranting suatu pohon, sehingga terbentang membentuk seperti payung segi empat. Bisa juga dengan menggunakan ranting pohon dan daun-daunan seperti yang saya jelaskan di atas. Tapi dalam latihan ini, kami memakai ponco untuk membuat bivak.

Oiya, diatas saya sebutkan kalau kita dilengkapi dengan garam yaa,,.. Jadi garam ini fungsinya untuk mengusir serangga, semut, ular, dan binatang-binatang kecil, melata, yang ada di tanah dan membahayakan. Caranya cukup ditaburkan di sekeliling bivak. InsyaAllah mereka gak akan berani melewati taburan garam tabur. Karena garam tersebut membuat tubuh mereka gak bisa lewat, sy belum tahu secara ilmiahnya siih. Tapi faktanya memang serangga, semut, itu gak bisa lewat tumpukan garam, dia langsung berbalik lg. Bahkan mungkin ada juga yang sampai mati. Mungkin karena sifat kimia dari garam saat menempel di badan hewan-hewan tersebut.  

3) Mencari air
Untuk yang satu ini, saya dan teman-teman masih menemukan air sungai dan air mata air, yang aman untuk diminum. Sehingga air tidak menjadi persoalan yang kritis. Sebagai catatan kita, air ini lebih penting daripada makanan. Kenapa? Karena menurut sebuah studi/penelitan, seseorang bisa bertahan hidup dengan tidak minum air adalah sekitar 3-4 hari. Namun, manusia mampu bertahan hidup dengan tidak makan sekitar 7-8 hari. Jadi betapa asupan minuman itu sangat penting bagi tubuh jika dibandingkan dengan makanan. Kalau kekurang air bisa terkena dehidrasi. Kita tahu bahwa tubuh kita terdiri dari 90% cairan.

Saat survival, dimana kondisi sangat kehausan, maka air sungai yang tadinya mungkin jijik atau nggak enak dan nggak bisa minum, saat itu menjadi nikmat untuk diminum.

Karena dengan kondisi saat haus membuat air sungai yang diminum menjadi nikmat. Senikmat air galon di rumah.hehehe.

4) Mencari makanan
Makanan yang saya dapatkan adalah talas hutan, umbi pisang, karang munting (kata orang Sunda harendong, dan siwalan (kelapa hutan). Saya sangat senang karena bisa tahu beberapa tumbuhan yang bisa dimakan di hutan saat kita dalam kondisi lapar. Beberapa yang bisa dimakan diantaranya yang saya sebutkan diatas. Makanan yang sangat berkesan bagi saya adalah siwalan. Karena jujur yaa, saya baru tahu kali itu. hehehe

Daun-daunan seperti daun pisang pun bisa dimakan saat kita dalam kondisi survival.

Bahkan, ada rekan saya yang berani makan cacing. Hihihihi. Memang dalam kondisi lapar, lihat cacing gerak-gerak di tanah, seperti liat mie ayam, hehehe. Saat lapar, liat daun pisang, kayak liat sayur..hehehe.

5) Buat perapian
Perapian ini juga sangat penting. Yaitu untuk ngusir nyamuk dan menghangatkan badan. Terutama saat di malam hari. Oiya, kaitannya dengan perapian, klo dapat makanan yang harus diolah, bisa dibakar dulu kaan.

Selama 4 kali pindah bivak, sy cuma berhasil buat perapian sebanyak 2 kali. Oiya, jadi kita (peserta survival) disetting untuk berpindah-pindah tempat bivak. Dengan aba-aba berupa bunyi petasan dari panitia. Intervalnya sekira 4-5 jam, kita berpindah.

Jadi saat itu, dari 4 kali berbivak, saya hanya bisa buat 2 perapian, seedangkan 2 bivak terakhir nggak bisa lagi, karena kondisinya hujan deras.

Tapi saya kagum dan salut, ternyata ada teman saya lhooo yang berhasil buat perapian di saat kondisi hujan, luarr biasa. Dan apinya juga besar banget lagi, banyak kayu ulin diatas perapiannya, jadi bisa buat bakar jagung sebeneranya (klo ada jagungnya....hahahaha, wong di hutan kok). Dan ternyata akhirnya dia inilah yang mendapat juara 1 dalam survival ini. Penilaiannya terdiri dari penilaian bivak, air dan makanan yang didapatkan, perapian, dan penilaian dalam konteks ber-survival lainnya.

Nah, sampai disini dulu ya friend sharing saya tentang survival di hutan. Semoga bermanfaat.
Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//