Budaya Bakar Jagung di Malam Tahun Baru

Satu malam menjelang malam pergantian tahun baru, saya dan istri menyempatkan jalan-jalan ke pasar malam di sekitaran rumah. Nggak sengaja lihat abang-abang yang lagi jualan jagung mentah. Dikasih harga per tongkolnya Rp 3.000,-. Lumayan murah laah. 

Kemudian, sepulang ke rumah, pikiran saya tiba-tiba langsung kemana-mana gara-gara jagung. Dan ada satu hal yang sangat kuat hubungannya dengan malam tahun baru. Yaitu malam tahun baru dan jagung.

Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, "kenapa yaa malam tahun baru mesti banyak orang yang bakar jagung?" Ya sudahlah, mungkin karena hobi aja. 

Tapi, hihihi...ada juga sih yang bakar kembang api atau petasan. Asalkan jangan bakar rumah orang aja. No...no...warning garis tebal. Kecuali kalau nggak ada fulus di dompet, mendingan bakar sampah aja deh buat merayakan tahun baru. Hehehe.


Seriuus lhooo pertanyaan saya, kenapa ya?

Menurut pengamatan saya, ternyata memang dulu awalnya kebiasaan. Dari kebiasaan yang berulang-ulang itu jadilah budaya. Tiap malam pergantian tahun mesti bakar jagung. Diiringi budaya lainnya yang juga sering dilakukan masyarakat Indonesia yaitu nyulut kembang api dan konvoi. Kalau buat saya mah, mendingan uangnya ditabung atau dibeliin makanan, terus makan bareng-bareng keluarga...daripada dibakar, suaranya juga tetap bisa didengerin sama kita-kita yang nggak beli dan nyulut petasan. Ya nggak...ya nggak.

Eh, tapi kalau semua orang berpikiran sama begitu, nggak ada yang nyulut kembang api dong? Gimana? Nggak bakal liat meriahnya kembang api dong? Ya gak apa-apa juga, mungkin ada aplikasi kembang api di Play Store, hahaha.


Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//