Siapa Pemberi Rezeki: Perusahaan atau Atasan?

Sekitar sebulan yang lalu, saat berkumpul dengan rekan-rekan tim pendampingan SMK Coop, ada sesuatu yang menarik untuk saya tuangkan di blog ini.

Kami bersembilan merupakan tim pendampingan SMK Coop yang dipegang oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, bekerja sama dengan PT Trakindo Utama. Sejak tahun 2013 - 2016. Adapun SMK Coop merupakan program CSR bidang pendidikan PT Trakindo Utama yang berjumlah sembilan SMK. Tersebar di 9 SMK di seluruh nusantara.

Tepat akhir agustus kemarin, tugas kami pun sudah tuntas selama kurang lebih 3 tahun mendampingi SMK Coop tersebut. Dan saat kami ngobrol santai, masing-masing kami bercerita tentang rencana setelah program selesai.
training basic technical for technician coop trakindo
Saat mengikuti Training Basic Technical for Technician (BTT) di TC Cileungsi

Mas Bayu (Pendamping Timika) rencananya mau melanjutkan bisnis konveksi di Jogja. Kang Iqbal (Pendamping Sorong) berencana kembali ke pesantren Husnul Khotimah, Kuningan dan atau kembali ke Ciamis. Mas Dendy (Pendamping Lubukpakam) punya rencana tinggal di Lubukpakam dan mencari pekerjaan di Lubuk Pakam, karena istrinya juga orang sana. Mas Julyar tinggal di Balikpapan dan cari kerja di sana, karena istri orang Balikpapan. Mas Yefri rencana bisnis tas dan sepatu. Pak Sulhaidi berencana tinggal di Sumbawa, mungkin kembali mengajar. Pak Iwan rencananya tinggal di Manado meskipun asalnya dari Lombok, karena istrinya sudah bekerja disana.
Dan saya pun rencananya kembali ke Bogor. Ke kota hujan.

Fitrah manusia, saat pekerjaan yang menjadi tumpuan untuk menafkahi keluarga sudah akan tiada, rasa cemas, rasa waswas, dan rasa khawatir menghampiri. Tidak bisa tidak. Hal tersebut merupakan dampak dari rasa memiliki tanggung jawab sebagai seorang suami (yang sudah menikah) dan anak. Hal wajar tentunya jika masih berada pada level tertentu.

Namun, akan menjadi tidak wajar jika terlalu berlebihan dalam menyikapi "kehilangan" ini. Dipandang dari sudut agama, yang erat kaitannya dengan masalah akidah. Bahwa rezeki adalah kehendak Allah Sang Pemberi Rezeki.

Rezeki bukan dari perusahaan yang menggaji.
Rezeki bukan dari atasan yang memberikan dan mengawasi saat bekerja.

Allah pun berfirman, dan firman-Nya bukan hanya untuk manusia. Tapi untuk semua makhluk di muka bumi ini.

"Tidak ada makhluk yang melata di muka bumi ini kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuz)." (QS. Hud (11) : 6)

Jadi, mari serahkan semua tentang rezeki ini kepada Sang Pemberi Rezeki, Yang Maha Kaya yaitu Allah Subhanahu Wata'ala. Tugas kita sebagai makhluk adalah berikhtiar sebaik mungkin. Sesempurna mungkin. Perantara rezeki mungkin bisa jadi lewat bekerja di perusahaan, berniaga, dan sebagainya. Adapun hasilnya merupakan ketetapan Allah.

Hidup, mati, rezeki ada di tangan Allah. Begitulah perkataan yang termahsyur. Mari perkuat keyakinan tentang rezeki, bahwa Allah lah pengatur rezeki kita. Sempurnakan ikhtiar dan tawakallah pada takdirNya.



Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//