Menjalani Ramadhan Bukan Sebagai Rutinitas Belaka

Kumandang adzan maghrib setiap hari kita sambut dengan kucuran air wudhu yang mengalir membasahi wajah, mengurai rambut, membersihkan telinga, dan membasuh kaki. Lantas kita tunaikan sholat berjama'ah di masjid. Hampir setiap hari bagi lelaki muslim melaksanakan kewajiban sholat berjama'ah. Begitu juga wanita muslimah yang ta'at, menunaikannya di rumah masing-masing. Tak terasa rutinitas itu sampai jua pada detik-detik dimana bulan suci penuh berkah, rahmat, dan maghfiroh, akan datang menghampiri kita dengan penuh kedamaian dan kehangatan. Ibarat kawan lama yang datang dari jauh dan bertahun-tahun lamanya baru kembali menemui kita. Subhanallah, indahnya perjumpaan itu. 

Hingar bingar kehidupan dunia seakan harus terhenti dari nafsu-nafsu yang menguasai diri umat muslim ini. Anak-anak, remaja, muda, tua, semua menyaksikan pergantian bulan pada malam itu. Ya, bulan Ramadhan. Bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan dengan obral pahala yang besar dari Allah, seakan Dia ingin menunjukkan betapa sifat Ar-Rahiim-Nya sangatlah dekat dan nyata.

Tak lama lagi malam-malam kita akan dihiasi oleh sholat sunnah tarawih. Masjid-masjid akan ramai oleh jema'ah ibu-ibu, dengan bawaan makanan cemilan dari rumah masing-masing. Ada yang membawa nasi tumpeng, buras, pisang, ulen,dan aneka makanan lainnya. Ba'da isya, biasanya diselingi dengan kultum (kuliah tujuh menit, kadang diplesetin jadi "kuliah terserah antum"), maksudnya terserah lama tausiyahnya mau tujuh menit atau lebih, pokoknya terserah antum. 

Suasana di rumah pun menjadi hangat dengan menyantap hidangan buka puasa bersama anggota inti keluarga. Penatnya siang hari terbalas dengan seteguk air putih dan sebutir korma. Kondisi ini jarang dilewati pada hari-hari biasa. Amboi, indahnya keakraban dalam keluarga pada bulan ini. Anak dan ibu saling berlomba mengkhatamkan Al-Quran, sampai-sampai sang anak tiap hari melihat halaman terakhir yang dibaca oleh ibunya. Lalu ia pun menambah bacaan Qurannya tatkala dia kalah jauh bacaan Al-qurannya.

Amalan wajib disempurnakan. Amalan sunnah pun ditunaikan. Tak ragu lagi, dari kita membuat target pencapaian ibadah untuk satu bulan Ramadhan. Kita membuat daftar setiap amalan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah. Mulai dari sholat wajib, sholat rawatib, qiyamullail, Lailatul Qadr, dhuha, sedekah, infak, tilawah, hafalan Quran, bacaan buku Islam, kehadiran dalam kajian, dan lain-lain. Tiap hari dicek amalan-amalan tersebut. Sungguh terrencana dengan mantap. Lalu, kita pun berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikannya.

Di awal, kita begitu semangat menjalankan agenda ibadah yang telah dibuat, di pertengahan mulai agak mengendor, dan di akhir kembali menanjak (mudah-mudahan tidak bagi para pembaca sekalian ya, hehe, tapi umumnya sih gitu...:-). Singkat kata, kita berusaha semaksimal menjalankan agenda untuk mencapai target. Agar menjadi sarjana Ramadhan yang sejati. Untuk meraih tujuan utama puasa yaitu meraih derajat taqwa.

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa." (QS. Al-Baqarah : 183)

Cerita tak berakhir indah ternyata. Bahkan tak berjalan mulus. Allah masih menyisakan 11 bulan berikutnya sebagai ujian keimanan. Apakah hamba-Nya masih konsisten (bahasa gaulnya istiqomah, :-) dalam menjalankan dan menjaga amalan seperti di bulan Ramadhan??? Masihkah hamba-Nya tilawah Al-Quran 1 juz per hari?? Masihkah ia berusaha berkhalwat dengan Rabbnya di malam-malam harinya?? Bagaimana dengan dhuha, sedekah, infak, dan amalan ibadah lain??? Mari kita bertanya dengan jujur pada diri kita. 

Mungkin di antara kita banyak yang istiqomah menjaga "amalan-amalan Ramadhan" hingga bertemu dengan Ramadhan tahun depannya lagi, kemudian berusaha menjaga amalan agar seperti Ramadhan tahun sebelumnya, bahkan ditingkatkan. Namun, tak sedikit dari kita dimana sedikit demi sedikit ada amalan yang terlewat. Kadang tak sadar sepenuhnya, namun perlahan tapi pasti ia hilang dari diri kita. Hingga kita baru sadar bahwa Ramadhan sudah hadir lagi di depan mata. Atau kita baru sadar di awal bulan Rajab, disaat kita sedang merutinkan membaca do'a yang dianjurkan oleh Rasulullah pada bulan Rajab. Lalu kita pun mulai menengok lagi catatan amalan di bulan Ramadhan tahun kemarin. Astaghfirullah. Kita baru tersadar amalan A jarang ditunaikan, amalan B kadang cuma sehari sekali, dan lain-lain.

Inilah poin utama dan penting untuk kita muhasabahi. Kita harus menghisab diri lagi. Karena menjaga keistiqomahan memang sangatlah sulit dan berat. Namun dengan adanya muhasabah setiap hari, insyaAllah akan menguatkan kembali puing-puing iman kita yang roboh di kala itu. Dengan muhasabah, kejernihan hati akan bersinar lagi untuk mengembalikan kondisi iman dalam qalbu.
Dengan begitu, kita tidak menjalankan sebuah rutinitas yang setiap tahun kita ulangi. Sekali, dua kali, dan bahkan berkali-kali. Ingatlah dan tanyakan pada diri kita, sudah Ramadhan ke-berapakah kali ini??? Lalu, sudah sesuaikah kita menjalani Ramadhan seperti yang diajarkan Rasulullah??? Dan terakhir, masihkah kita menjalani hari-hari pada bulan selain Ramadhan sama persis seperti menjalani bulan Ramadhan???

Semoga Allah memberi kekuatan iman dan islam pada diri kita. Dengan berbekal ilmu, marilah kita ajarkan diri untuk beramal. Berbuat amal, lahirkanlah ikhlas agar Allah ridho dengan apa yang kita perbuat.
Allahumma baariklana fii rajab wa sya'ban, wabalighna ramadhan

Wallahu a'lam.

Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//