Filosofi 3 jenis pohon

Sepertinya banyak dari kita yang pernah merasakan takjub dan kagum akan sebuah tema yang dibawakan oleh khatib saat khutbah Jumat. Mungkin sesekali tema yang kita kagumi tersebut bisa menjadi sebuah pengingat yang menyentuh kalbu dan melecut jiwa untuk terus mengorek diri tentang apa yang telah kita perbuat. Itulah kenapa khutbah Jumat diyakini oleh sebagian besar ulama Indonesia sebagai sarana untuk mensyiarkan ajaran dan nilai-nilai keislaman. Karena jika ditarik kepada syariat pelaksanaan khutbah, tidak diwajibkan memakai bahasa Indonesia. Yang diatur adalah rukun-rukun khutbah harus terpenuhi. Maka di beberapa masjid, khutbah cukup memakan waktu 10 menit, dimana sang khatib hanya memenuhi rukun-rukun khutbah dan tidak menyampaikan materi berbahasa Indonesia. Hukumnya sah kedua khutbah diatas, asal rukun khutbahnya terpenuhi.

Kekaguman akan khutbah ini juga saya rasakan di khutbah Jumat sepekan yang lalu. Saya tidak bermaksud untuk menyampaikan bahwa khutbah-khutbah yang diikuti sebelumnya kurang berkesan. Saya sangat meyakini bahwa semua yang disampaikan oleh khatib sangat penting untuk dicermati dan diamalkan. Karena semua khotib pasti mengambil dalil dari Al Quran dan Hadits Nabi SAW.

Yang ingin saya sampaikan dan seringkali menjadi perhatian saya adalah bahwa cara khatib menyampaikan khutbah harus diperhatikan agar pesan intinya sampai kepada jamaah shalat Jumat. Akan sangat berdampak signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan umat islam jika pesan khutbah yang digaungkan di masjid-masjid mampu tersampaikan dan tertangkap dengan baik dan utuh oleh jamaah. 

Salah satu penyakit yang hampir terjadi di masjid-masjid pada setiap khutah Jumat adalah jamaah yang tertidur. Entah karena jamaahnya sendiri yang kurang memperhatikan fadhilah shalat Jumat sehingga tidak mengusahakan diri untuk terjaga selama khutbah berlangsung. Atau karena pembawaan khatib yang monoton sehingga seperti me-ninabobo-kan jamaah. Saya sendiri sih yakin salah satu faktornya adalah cara penyampaian dari khatib yang mempengaruhi hal tersebut. Karena beberapa kali saya memperhatikan, di suatu masjid dekat kantor saya bekerja, berbeda khatib ternyata kondisi jamaah pun berbeda. Dimana di pekan sebelumnya, sebagian besar jamaah terkantuk-kantuk (termasuk saya, hehehe) lantas di pekan selanjutnya para jamaah terjaga dan terkonsentrasi memperhatikan isi khutbah. Bingo!

Oke, rasanya saya harus nulis di tulisan yang lain soal khutbah ya, hmmm.

Nah, kita kembali ke judul diatas. Pekan kemarin saya cukup terkesan dengan topik yang disampaikan oleh khatib yang teknik penyampaiannya pun bagus. Ditambah lagi dengan jenis suaranya yang lantang. Makin menambah khidmat. Dan lihat! Sampai sekarang tema khutbah tersebut masih teringat dengan baik di kepala saya.

Khutbah ini disampaikan oleh ustadz H. Hasan Basri Tanjung di Masjid Raya Telaga Kahuripan, Parung, Bogor. Beliau adalah guru kami dan sekaligus juga pengurus takmir Masjid Raya Telaga Kahuripan. Selain itu beliau merupakan ketua Yayasan Dinamika Umat, sekolah berbasiskan islam yang berlokasi di perumahan Telaga Kahuripan.

Okey, adapun topik yang disampaikan yaitu tentang pelajaran dari 3 jenis pohon ciptaan Alla yang ada di bumi. Tiga jenis pohon ini harusnya menjadi refleksi bagi kita, umat Islam dalam menjalani kehidupan ini.

Adapun 3 jenis pohon tersebut adalah:

  1. Pohon berbuah sepanjang musim. 
  2. Pohon berbuah musiman
  3. Pohon berbuah sekali

Pertama, pohon berbuah sepanjang musim

Allah berfirman "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan yang kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS. Ibrahim: :24-25)

Pohon yang dimaksud ayat tersebut salah satu contohnya adalah pohon kurma. Pohon kurma tumbuh dan berbuah sepanjang musim. Pohon kurma ini termasuk ke dalam jenis palem-paleman (palmae). Jika direflesikan kepada kita sebagai seorang muslim, dialah yang akidahnya kuat, ibadahnya rajin, dan akhlaknya menawan. Akidahnya kuat, tidak tergoda oleh harta, tahta, dan wanita. Ibadahnya rajin dan konsisten, tek mengenal waktu, tempat, dan lingkungan. Mau sedang dalam kesendirian ataupun keramaian, ia tetap menyembah padaNya. Ia bertasbih dan bersujud selalu. Saat sedang bekerja, sholat lima waktu selalu ia dirikan, yang sunnah dia kerjakan. Saat dikelilingi oleh orang-orang sholeh, ia rajin dalam ibadahnya. Begitu saat lingkungannya kurang mendukung, dia tetap menjaga ibadahnya. Malah justeru dialah yang memberikan tauladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sungguh indah muslim yang menyerupai pohon kurma ini. Akidahnya kuat menghujam dalam dada, seperti pohon kurma yang akarnya kuat menusuk ke dalam bumi. Akhlaknya baik kapanpun dan dimanapun. Seperti pohon kurma yang selalu berbuah di sepanjang musim. Subhanallah.

Kedua, pohon berbuah musiman

Jenis yang kedua, yaitu pohon yang berbuah musiman. Beberapa contoh diantaranya yakni rambutan, durian, mangga, dan lain-lain. Jika kita lihat, jenis pohon ini hanya berbuah di musim-musim tertentu. Jika belum datang musimnya berbuah, maka jangan harap bisa menemukan buah-buah diatas. Jika belum musimnya durian, jangan harap bisa menikmati "si raja buah". Kalau belum masuk musimnya mangga "harum manis" berbuah, tidak usah berharap bisa menikmati mangga yang terkenal dengan rasanya yang manis ini. Karena akan sia-sia, tidak akan kita temukan.

Lalu, apa pelajarannya bagi kita? Hal ini ibarat seorang muslim yang hanya beribadah "musiman". Ibadahnya bergantung musim. Bergantung waktu, tempat, dan lingkungan. 

Ada sebagian orang muslim yang beribadah tergantung waktu tertentu. Contohnya saat bulan ramadhan. Orang-orang yang biasanya jarang ke masjid, di bulan ramadhan menjadi rajin. Biasanya tidak pernah atau infak, di bulan ramadhan bisa setiap hari dan nominal materi yang diinfakkan pun bisa lebih besar dari pada hari biasa. Saat ramadhan, kita menyaksikan betapa ramainya masjid di hampir 5 waktu shalat (Isya, Shubuh, Dzuhur, Ashar, dan Maghrib). Terlebih yang sangat terlihat yakni jamaah shalat shubuh. Alhamdulillah. 

Lalu, salah kah? Tentu tidak. Alhamdulillah, kita harus bersyukur dengan fenomena yang terjadi di bulan ramadhan. Dimana hampir semua umat islam berbondong-bondong pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah, shalat tarawih, dan tilawah Al Quran. Alangkah baiknya jika selepas ramadhan, kebiasaan-kebiasaan di bulan ramadhan tetap dijaga di 11 bulan setelahnya. Hingga ramadhan tahun berikutnya menjumpai kita lagi. Sholat jamaahnya, infaknya, sedekahnya, tilawahnya, dan amal shalih lainnya. Sebagaimana tujuan kita diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah puasa ramadhan adalah agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Ini instropeksi buat saya dan kita semua. 

Mengapa? Karena membentuk karakter taqwa itu sungguh tidak mudah. Karakter taqwa perlu dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan baik (ciri-ciri taqwa). Dengan menjalani dan menjaga kebiasaan orang-orang bertaqwa di bulan ramadhan yang hanya 29-30 hari itulah, kita dibentuk untuk menjadi orang bertaqwa.

Ketiga, pohon berbuah sekali

Jenis pohon ketiga ini yang bisa kita jumpai salah satunya pohon pisang. Coba perhatikan. Pohon pisang hanya akan berbuah sekali seumur hidupnya. Dia hanya memberikan buahnya 1 kali saja pada manusia dan makhluk hidup lainnya. Makhluk hidup lainnya (siapa?). Ya, saudaranya yang baca tulisan ini, monyet. Hehehe. Ya sudah, saudara kita semua. Fair yaa.

Pohon pisang, setelah berbuah ia akan mati. Namun memang setelahnya akan muncul tunas. Dialah penerus generasi selanjutnya. Dan memang begitulah caranya bereproduksi, dengan tunas vegetatif. Masih ingat kan pelajaran IPA di SD. Hehe.

Perumpaan pohon pisang ini seperti seorang muslim yang hanya beribadah sekali seumur hidupnya. Atau bisa juga beribadah hanya sekali dalam setahun. Jika kita perhatikan, faktanya di sekeliling kita memang ada orang yang hanya beribadah saat shalat Idul Fitri saja. Duuh. Semoga kita dijauhkan dari profil muslim seperti pohon pisang ini. 

Eitts, bukankah semua yang diciptakan Allah tak ada yang sia-sia? Betul. Memang pisang memberikan manfaat kesehatan berupa buahnya yang kaya akan potasium. Yang biasanya sering dikonsumsi oleh para petenis lapangan menjelang pertandingan.

Sebenarnya pelajaran yang lain dari pohon pisang, juga ada hikmah yang baik darinya. Memang bukan dalam konteks bagaimana dia berbuah. Tetapi bagaimana pohon pisang berusaha bermanfaat bagi orang lain sebelum dia mati. Dan setelahnya ia harus melakukan regenerasi. Keren yaa, Allah Maha Besar paling keren. Ini lekat kaitannya dengan hadits nabi bahwa sebaik-baik kita adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Jadi, mari menjadi pribadi yang bermanfaat bagi manusia lainnya dengan keterbatasan dan kelebihan yang ada pada diri kita.

Sahabatku,
Kita hidup di dunia ini hanya sekali, namun jatah hidup sekali di dunia ini akan berujung kepada kehidupan yang kekal abadi di akhirat kelak. Jika kita hidup dunia seperti pohon kurma, maka insyaAllah kehidupan kekal di akhirat nanti akan berbuah surga. Namun, jika kita masih seperti pohon durian atau pohon pisang, kita harus segera berubah. Berubah untuk menjadi pohon kurma yang akidahnya kuat dan kokoh, ibadahnya rajin dan terjaga, serta yang akhlaknya menawan. Sungguh yang demikian itu, yang didambakan oleh sang baginda Nabi Muhammad SAW pada diri kita semua sebagai umat akhir zaman.

Semoga Allah memberikan kekuatan pada kita untuk menjadi hambaNya yang bertaqwa. Aamiin.

Wallahu a'lam bishowab.
(Hari kedua ramadhan 1438H)

Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//