Kematian bukan tentang "kenapa", tapi "apa"

Sekitar 3 hari yang lalu, ponsel Sony Ericsson J10i saya bergetar pendek. Pertanda sms masuk. Tak lama saya buka. Tertera pengirimnya dari teman saya yang isinya, "Ef, si Azis maot". 

Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Sejenak pikiran saya melambung ke beberapa wajah teman-teman saya sewaktu SMP. Lalu, pikiran saya terhenti di satu wajah, yang tak lain dan tak bukan adalah Azis. Berwajah putih. Hal lain yang saya pikirkan adalah Azis ini jago maen sepak bola. Sedikit ragu dengan sosok yang saya duga, saya balas sms tersebut.
"Azis Cikadu De?" balas saya.
"Heeuh Ef. (Iya Ef)" jawab teman.

Ternyata benar dugaan saya, Azis yang itu. Lalu pikiran saya kembali bertanya-tanya, apakah sebelumnya sakit ataukah sehat-sehat saja.

"Samemehna gering atawa kumaha De? (Sebelumnya sakit atau bagaimana De?)", tanya saya.
"Gering Ef, aya sataun mah, gagal ginjal" (Sakit Ef, ada setaunan, gagal ginjal).

Pertanyaan saya terhenti disitu, dan mengucap Innalillahi wainna ilaihi rojiun lagi. Rasanya tak perlu lagi bertanya kenapa meninggal. Pikir saya. Karena meninggalnya seseorang adalah sudah takdir. Adapun sakitnya adalah berupa bunga kematian.

Dari pengalaman ini, saya kembali mendapatkan peringatan dan pelajaran tentang banyak hal. 

1. Kematian itu pasti

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Begitu Al Quran mengisyaratkan pada manusia. Bahwa kematian itu pasti adanya. Hanya persoalan waktu saja. Semuanya pasti akan merasakan kematian. Mutlak. Tidak bisa ditawar-tawar. Pertanyaannya kemudian, "Sudah siapkah kita mati?" "Apa yang sudah kita perbuat selama hidup?" Mungkin jika ditanya, rasanya kita masih ingin hidup lebih lama, agar bisa berbuat amal kebaikan. Agar bisa menabung lebih banyak lagi untuk bekal di akhirat. Namun, kehendak Allah tidak bisa diganggu-gugat. Yang pasti kita harus mempersiapkan diri dengan baik untuk kehidupan yang tak terhingga di akhirat nanti.

2. Kematian bukan tentang kenapa, tapi "apa"

Saat kita mendengar kabar ada yang meninggal, tak sedikit yang bertanya kenapa meninggal. Padahal, perlu kita ingat, bahwa kematian itu sudah takdir. Kematian merupakan kejadian yang tidak memerlukan sebab bagi Allah. Mau sehat, mau sakit, ajal tetap menjemput bila sudah waktunya. Adapun sakit merupakan sebuah pertanda menjelang kematian, dan bukan mutlak adanya, jika seseorang sakit akan meninggal. Sebagaimana Nabi Muhammad yang sebelum meninggalnya sempat sakit terlebih dahulu, namun kemudian sehat. Lalu meninggal. 

Saya pernah mendengar, ada seorang nenek yang sakit, sudah parah, bahkan divonis dokter hidupnya tidak lama lagi. Saat di rumah sakit, dirawat sedemikian rupa. Lalu dalam kondisi koma dan hampir dinyatakan meninggal. Lalu di rumah keluarganya sudah dipasang tenda untuk layatan. Namun ternyata si nenek tadi kembali sehat dan tidak apa-apa. Eh malah keesokannya, salah satu anggota keluarganya yang kondisi fisiknya sehat wal afiat yang meninggal.

Jadi kematian itu bukan tentang apakah sehat atau sakit. Jika sudah waktunya, maka ajal akan tiba. Namun yang  lebih penting, kematian itu tentang apa.

Apa yang akan dibawa ke akhirat kelaj?
Apa kita sudah berbuat kebaikan untuk hidup yang lebih kekal di sana?
Apa kita yakin telah berIslam dengan baik?
Apa kita sudah berbuat baik kepada orang tua?
Apa kita sudah menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak kita?
Apa kita sudah menjadi pasangan yang baik bagi suami atau istri kita?

3. Kematian bukan tentang usia

Teman SMP yang meninggal beberapa hari yang lalu, kira-kira usianya tidak jauh beda dengan saya. Sekitar 26 tahun. Artinya di usia yang segitu, terbilang masih sangat muda. Namun, bukan berarti jadi masih banyak waktu tersisa, karena usia Nabi meninggal di usia 63 tahun. Atau umatnya Nabi dikatakan sekitar 60 tahunan. Tidak menjamin. 

Atau akan hidup lebih dari itu. Banyak pelajaran, di usia yang masih sangat muda, sudah terlebih dahulu meninggalkan kita. Usia bayi, usia anak-anak, usia muda, usia tua, dan usia lainnya. 
*******************

Dengan mengambil pelajaran dari ketiga poin diatas, semoga kita bisa menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri dalam rangka mempersiapkan kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Sehingga saat waktu itu tiba, kita siap dengan segala sesuatunya.

Yuk kita siapkan diri kita. Kita perbaiki sholat kita. Kita tingkatkan sedekah kita. Kita tingkatkan amal ibadah dan jauhi maksiat. InsyaAllah hidup kita akan selamat dunia akhirat. Aamiin.

*Semoga almarhum Azis Fatahillah, salah sahabat terbaik saya, diampuni segala dosanya dan diterima segala amal ibadahnya, serta dimasukkan ke surgaNya. Aamiin
Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//