Berpisah dengan Ramadhan


Hey bro, gmana kabar lw???
Akhi, gimana kabar antum???
Pa, apa kabar nie?
…….Banyak sekali jenis-jenis ucapan untuk menanyakan kabar pada rekan, teman, kawan, atau siapapun itu. Hmmm….tapi kali ini aku (baca:gue, saya, ana) nggak bakalan ngebahas yang namanya ucapan nanya kabar, efeknya, atau sampai ke tektek bengek sekalipun. Tapi semoga para pembaca sekalian berada dalam keadaan sehat walafiat, sehat fikir,ruhiyah,jasadiyah, dan selalu dalam lindungan dan rahmat Allah Tuhan semesta alam. Amiin.
Saudaraku yang dirahmati Allah, tak terasa ya bulan Ramadhan telah berlalu. Gema anak-anak yang tiap dini hari menyuarakan dengan lantang, “sahur…sahur…sahur…” tak terdengar lagi. Sejuknya panorama lingkungan mesjid yang sangat indah dipandangpun hilang perlahan-lahan, tak ada lagi kumpulan anak-anak yang berbondong-bondong pergi ke masjid dengan membawa kitab suci Al Quran di sore hari. Jalanan pun seakan meninggalkan keramaiannya menjadi seperti semula. Sepi. Para pedagang yang setiap sore hari menjajakan kolak, cemilan manis, sirop, sakoteng, dan cemilan lainnya sudah tidak bisa kita temukan lagi saat suara takbir kemenangan, Hari Raya Idul Fitri 1432 H berkumandang di seluruh penjuru dunia, yang dilantunkan dengan penuh keikhlasan mengharap ridho Allah. Allahu akbar…Allahu akbar….Allahu akbar Laaillaahaillallahu wallahu akbar Allahu akbar walillahil hamd. Ramadhan telah berganti Syawal. Sedih, pilu, sesal, duka, tak kuasa meninggalkan ‘kekasih’ yang hanya mampir satu kali dalam setahun. Memang betul kata para pujangga, “Lama tak jumpa, tumbuh subur rasa rindu yang mendalam di hati”. Aku rindu pada engkau, ya Ramadhan Mubarak. Semoga kita dipertemukan kembali oleh pencipta kita, Allah Sang Khalik.
“….jangan jadi hamba Ramadhan, jadilah hamba Allah. Niscaya engkau akan melakukan ibadah atau amalan apapun seperti di bulan Ramadhan pada bulan-bulan yang lain. Jangan hanya rajin tilawah, shalat malam, shalat sunnah, sedekah, siaturrahim, dll hanya di bulan Ramadhan. Tapi lakukanlah ‘amalan-‘amalan itu di bulan-bulan yang lain seperti engkau melakukannya dengan semangat dan penuh harap pada bulan Ramadhan. Itulah hamba Allah. Bukan hamba Ramadhan…”, tausiyah yang disampaikan oleh ustadz Shalahudin El Ayoubi, dosen muda Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Beliau adalah lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir. LUAR BIASA!!! Terenyuh menyimak taujih beliau pada malam ke-26 di bulan Ramadhan 1432H. Tepatnya di masjid Al-Hurriyyah yang dicintai mahasiswa IPB. Ya, betul sekali apa yang disampaikan oleh beliau. Kebanyakan umat Islam di dunia, ahhh jangan jauh-jauh…di Indonesia, banyak yang jadi sholeh mendadak (atau ente punya sebutan yang paling tepat???!!!). Bersyukur sih…masih punya niat buat bertaubat, sering ke masjid walaupun cuma shalat tarawih. Tilawah lumayanlah beberapa lembar, daripada nggak. Cuma…???? Yang jadi pertanyaan, kenapa hanya ketika memasuki bulan Ramadhan banyak orang muslim yang berbondong-dong rajin pergi ke masjid, tilawah, sedekah, dan lain-lain. Bahkan, (afwan kalau kurang pantas) para PSK tuna susila-pun cuti selama bulan Ramdhan jadi shalehah (bener gak sih???!!!). Kaum hawa yang sehari-hari nggak berjilbab, jadi mengenakan jilbab. Artis atau selebritis mungkin yang paling menonjol perbedaannya saat bulan Ramadhan. Beuh..subhanallah kalau seperti ini kehidupan di Indonesia setiap bulan luar biasa tenteramnya negeri ini. Semoga suatu saat. Amiin.
Karena memang, usai Ramadhan segala sesuatunya kembali lagi seperti semula. Bentuk-bentuk kemaksiatan kembali lagi digeluti, dari yang kecil sampai yang guedhe..Na’udzubillah. Kemana latihan-latihan yang terus tiap hari diberikan oleh Allah pada kita saat bulan Ramadhan???  Karena penulis pun ternyata belum bisa istiqomah euy,hehe...Tapi selalu terus untuk memperbaiki diri dari hari ke hari.

ATTENTION!!! Bulan Ramadhan hanyalah bulan karantina untuk umat Islam (yang beriman). Tujuannya menjadi umat islam yang bertaqwa. So, kondisi taqwa berarti bukan hanya terlihat secara dzohir ataupun syir pada diri seseorang pada bulan Ramadhan…tapi justeru pada bulan setelah Ramadhanlah identitas ketaqwaan seorang muslim terlihat dan tercirikan dengan jelas, bukan hanya di bulan Ramadhan. Terjewantahkan dalam ucapan, perbuatan, dan diamnya pun menandakan betapa Islam telah telah menjadi jiwanya. Namun sayang, itu semua seakan bukan menjadi suatu hal yang substansial. Seakan Ramadhan hanyalah bulan yang harus dilewati dengan kondisi yang FULL ISLAMIC, tapi bulan lain NOT ISLAMIC. SANGAT MIRIS, Saudaraku. Betapa Rasulullah sudah mengingatkan pada kita semua, bahwa teruslah beribadah seakan-akan engkau akan mati besok. Jika kita telaah dengan cermat, maka tidak akan pernah kita rela sedetikpun waktu yang kita punyai terisi oleh hal-hal yang tidak berguna, apalagi oleh kemaksiatan-kemaksitan. Mari kita semua memohon ampun pada Allah dan memperbanyak istighfar.
So, apa pandanganmu atas kondisi seperti ini??? Apakah ramadhan hanya akan menjadi salah satu bulan yang berisi rutinitas sholeh/ah setiap tahunnya untuk umat Islam. Tentu tidak!!! Kita semua menginginkan sebuah perbaikan untuk kondisi umat Islam sekarang ini. Cukup sudah pengalaman-pengalaman yang telah lalu, tugas kita semua sekarang adalah menciptakan pola fikir yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Ramadhan hendaknya bisa menjadi bulan yang membuat kita semua (baca: umat Islam) menemukan kembali makna hidup dan kehidupan yang sejati. Agaknya, kita sudah banyak terlena dengan kehidupan dunia yang fana. Padahal ada sebuah tugas yang Allah embankan kepada kita di dunia ini. Menjadi khalifah yang menentramkan seluruh jagat raya. Mengisi dunia dengan kebajikan-kebajikan. Tugas kita adalah menjadi wakil Allah di muka bumi. Menyebarkan keselamatan, kesejahteraan, dan kebaikan hingga ajal menjemput, dan hingga dunia ini berakhir.
Sehingga, pada akhirnya saya ingin mengajak saudara-saudaraku semua yang selalu dirahmati oleh Allah, yuk kita lejitkan potensi diri kita sebagai seorang muslim agar menjadi muslim yang sejati. Sebenar-benarnya muslim, dengan segala makna yang terkandung dalam kata "muslim yang bertaqwa". Taqwa merupakan derajat tertinggi manusia di hadapan Allah Sang Khalik. Tidakkah engkau tergiur dengan derajat taqwa???? Masihkah pangkat dan jabatan lebih menggiurkan untukmu wahai manusia???? Akankah kita berusaha keras agar menjadi orang yang bertaqwa??? Jawaban ada pada diri kita masing-masing. Tentu kita semua menginginkan agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Amiin ya Rabbal 'alamin.

Wallahua'lam bishowab.

Muhamad Saefudin
aefsin@yahoo.com
Masjid Perjuanganku, Al-Hurriyyah IPB tercinta

Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//