Mancing Ikan Tenggiri di Sangatta (Edisi 2)

Mancing yuuk....

Melanjutkan cerita tentang memancing tenggiri di post sebelumnya, edisi mancing kedua ini juga gak kalah serunya. Selain memancing tenggiri, trip ini menyimpan banyak kesan, baik suka maupun duka...duuh.

Kalau mancing tenggiri di Sangatta edisi 1 berisi SUCCESS STORY [baca: Serunya mancing tenggiri di Sangatta (edisi 1)], yang berhasil membawa pulang 10 ikan tenggiri dengan bobot masing-masing berkisar 8-10 kg, kali ini berisikan cerita "The Unexpected Journey to Sangatta". 

Kenapa begitu? So, ini ceritanya.

Selang sekitar 10 bulan dari mancing perdana ikan tenggiri (di bulan Maret 2015), ada tawaran menggiurkan lagi dari "crew pancing" yang juga teman kantor. Berburu tenggiri [lagi] di Sangatta, tapi di spot yang berbeda. Spot yang terpilih yaitu spot "Patok Empat". Kalau Papua punya Raja Ampat, Sangatta punya Patok Empat. Apa keistimewaan spot ini? Akankah lebih banyak dapat tenggiri dibanding di spot Labuhan Nanang? Saya penasaran karenanya.

Nah, sebelum berangkat mancing kita harus lakukan persiapan dulu. Ini dia persiapan perangkat pancing yang akan dibawa, antara lain:
  • Mata pancing size 7 (OWNER)
  • Handline
  • Sling
  • Pemberat
  • Leader
  • Kili-kili
  • Dll


Selain alat pancing, persiapan yang cukup penting lainnya adalah perbekalan makanan, pakaian dan lain-lainnya selama perjalanan darat dan laut atau selama memancing di laut, yaitu:
  • Sarapan pagi
  • Makan siang (rencana di tempat teman orang Sangatta)
  • Makan malam di laut (bawa nasi bungkus)
  • Antimo (saya sendiri beli 1 set berisi 10 bungkus)
  • Snack
  • Jaket
  • Pakaian ganti
  • Senter
  • Safety Gloves (untuk memancing tipe handline, kalau nggak pakai ini bisa terkena insiden) 

Dan yang pasti harus disiapkan adalah mobil dan kapal. Ada 2 mobil yang digunakan untuk perjalanan darat dari Samarinda menuju Sangatta. Karena ada 2 grup mancing yang ikut kali ini. Dari Samarinda berjumlah 7 personil dan 1 dari Sangatta. Saya tergabung dengan grup mancingnya Pak Sarofi. Persis formasi mancing di Labuhan Nanang minus Pak Sigit. Tapi diganti 2 temannya. Total grup kami berjumlah 5 personil.

Kemudian, satu armada kapal sudah kami sewa  jauh-jauh hari sebelumnya. Kapal kali ini bernama kapal "BINTANG KEHIDUPAN". Nggak ada hubungan apa-apa sama almarhumah Nike Ardilla. Tapi mungkin aja si empunya kapal mengidolakan sang rocker sejati ini. Nah, kapal inilah yang akan mengantar ke spot mancing dan menunggu selama memancing, sampai kita balik lagi dengan selamat ke pelabuhan.




Oiya, jangan lupa tetap taat peraturan yaa.

Singkat cerita, kami sudah berada di spot Patok Empat. Semua pemancing mulai memasang umpan. Lama menunggu sekitar 2 jam, beberapa umpan kawan-kawan mulai disambar ikan. Mulailah kami me-naik-kan ikan. Ikan yang naik pertama kali cukup surprise. Barakuda!!!

Kami tetap fokus pada target. Tenggiri!! Namun, ternyata selama 3 jam lebih, yang banyak naik adalah tetap ikan barakuda. Selama 3 jam itu, ikan tenggiri nggak ada yang nyangkut di mata pancing kami. Beberapa dari kami mulai menggerutu. Karena target yang dicari tidak ada di tempat. Hehe. Terutama Pak Sarofi, kali ini cukup kecewa. Ternyata eh ternyata, di spot ini nggak ada sama sekali ikan tenggiri. Rupanya barakuda yang banyak disini. Nggak ada kata lain selain, Lanjutkan!!! Akhirnya kami tetap memancing dengan target yang sedikit berbelok. Ikan barakuda!!!

Kejutan lagi!! Ada yang naik, ikan kakap raja!! Warna merahnya bikin mata kami jadi semangat lagi. Di tengah-tengah keseriusan kami, ada yang diam-diam lagi bingung, karena sedari tadi orang-orang naikkin ikan, dia cuma termenung. Sesekali menarik pancingnya. Saat ditarik, umpannya habis. Berkali-kali begitu. Dia adalah saya.

Jadi soal target tenggiri yang nggak ada di nggk masalah buat saya. Kalau saya prinsipnya, apapun yang naik, udah syukur deh..hehehe. Lama sudah saya masang pancing, naik - turunkan umpan ke laut, belum ada juga yang naik. Walhasil 3 jam nggak dapet apa-apa. Inilah yang namanya "NGENEST", kayak film yang lagi booming di bioskop. Saya akhirnya menyerah karena dikalahkan rasa kantuk yang luar biasa. Maklum, selama perjalanan darat dari Samarinda sampai di spot, sudah masuk 3 pil antimo. Heuheu. Satu pil untuk perjalanan darat Samarinda-Sangatta, dan 2 saat di kapal. Tapi kali ini saya udah nggak mabuk laut lagi. Yessss. Akhirnyaaa. Mabuk sih nggak, cuma ngantuk iya, imbasnya saya tidur sampai subuh. Hahaha...pas tidur memang kedengerannya ada yang nurunkan ikan lumayan banyak.

Setelah saya terbangun di subuh hari sekitar jam 4. Saya lihat box-box ikan yang ada, ternyata macam-macam didapat.  

Pertama, yang paling banyak adalah barakuda, mungkin sekitar 20 ekor ikan, sebesar pergelangan tangan.

Kedua terbanyak adalah ikan bodoh. Ada cerita lucu soal nama ikan ini. Jadi, posisi di kapal, dibagi jadi 2 grup, dimana grup saya di bagian depan kapal dan grup 1 lagi di bagian belakang kapal. Rupanya teman-teman di bagian belakang lebih sedikit hasil pancingannya, bahkan ada yang nggak dapat sama sekali. Akhirnya sama tukang kapal, kami diarahkan ke spot yang lain di pagi harinya. Isinya banyak ikan "bodoh".

"Emang kenapa namanya ikan bodoh pak" Tanya dari saya.

"Ikannya bodoh sudah, kita turunkan mata pancing 10 yang naik ikannya juga 10. Itu ikannya bodoh makanya namanya." Wehehehe. Ada-ada aja. 

"Kalau kita sampai nggak dapat tuh ikan, berarti kita yang bodoh nih" Sahut saya disambut gelak tawa seisi kapal.

Ternyata betul, ikannya bener-bener bodoh. Gampang banget dapetnya. Saya pun lumayan banyak dapat ikan ini. Rasanya ikan ini juga lumayan enak kata orang kapal. 

Lalu Ketiga ikan yang didapat bermacam-macam jenis dan ukuran. Ada ikan kakap raja kira-kira sebesar paha orang dewasa. Ada ikan kerapu, ikan cakalang, ikan kurisi, ikan kakatua, ikan ketombong, dan lain-lain.

Ikan Kakap Raja

Ikan kerapu
*________________________*

Kami pulang bertolak dari laut sekitar jam 10 pagi waktu setempat. Sebetulnya, kami sudah mau pulang jam 7 pagi. Namun, grup satunya masih belum puas dengan hasil yang didapat. Terutama yang belum dapat sama sekali. Akhirnya kami cari spot lain.

Akibatnya jam 10 kami putuskan untuk mengakhiri petualangan ini. Daaan pas hampir sampai ke pelabuhan, air laut sudah surut dari jarak sekitar 1 km dari pelabuhan ke laut. Apalagi makin siang, air laut makin surut. Pasangnya lagi air laut jam 3 atau jam 4. Waduuh...

Kami lihat ada 1 kapal yang nggak bisa tembus ke pelabuhan karena kapal sudah menyentuh dasar, alias macet. Untungnya nakhoda kapal kami cerdas. Nggak salah nama kapalnya BINTANG KEHIDUPAN, hehehe. Semua penumpang disuruh maju di paling depan kapal supaya kipasnya mesin nggak nyentuh dasar atau tanah. Dan sambil dimiringkan serta didorong angota kapal (2 orang) supaya tidak menyentuh dasar. Lalu permukaan air yang lebih dalam, akhirnya kapal bisa tembus sampai ke pelabuhan. Alhamdulillah, nggak jadi dorong kapal.

Setelah bongkar muat, saatnya transaksi keuangan. Dan akhirnya kami pun pulang. Mampir makan siang di rumah orang Sangatta, lalu meluncur ke Samarinda. Perjalanan Sangatta-Samarinda cukup panjang. Ditemani lagu Zamrud yang membantu supir tetap melek. Setelah 3 jam perjalanan, kami mampir dulu di warung kecil. Es kelapa muda!!! Hmmm...segueeeeerrrrrrnya rek...!!

Tiba di rumah Pak Sardjono jam 5. Lalu bagi-bagi ikan untuk dibawa ke rumah. Saya dapat 3 ikan barakuda, ikan bodoh, kerapu baby, dll. Ikan barakuda infonya enak dibikin empek-empek atau pentol.


Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

8 comments:

Mysweet Ladyluck said...

Ikuuuuut mancing ! Asyik bener, bisa seharian ya mas? Makan siang di perahu?
Ikan tenggiri aku suka buat bikin empek-empek.
Biasanya kalo mancing jam2 kapan yg bagus mas?

Foto2nya bagus2 .. great shot :)

Muhamad Saefudin said...

Yuuk :-). Mancing yang bagus biasanya start jam 6 sore - 7 pagi. Terutama pas malam harinya, bagus banget. Dan saat bulan gelap, lebih bagus. Teorinya ikan akan cari cahaya dari kapal/perahu.

Makan siang di darat, krn jam 3-an baru melaut. Iya, tenggiri enaknya memang dibikin empek2 mba :-)

Asep Haryono said...

Mungkin yang dimaksud ikan KRISI

Muhamad Saefudin said...

Ikan KURISI maksudnya ya pak Asep? Kata temen2 pemancing senior sih ikan kakap raja...klo sy kurang tahu banyak tentang jenis ikan, he.

kalimantan timur said...

Kapan trip lagi mas, pengin gabung ni , lama tdk mancing k laut, sya tiap minggu 2 kli k sangatta dr samarinda

Muhamad Saefudin said...

Belum tahu mas,,lagi padat job timnya.

Wah biasa mancing apa mas?

kalimantan timur said...

Biasa mancing di muara badak pang empang mas, mas di smda dinas , tinggal d mana , sy d smda sbrang, kenalin sy iwan lukito kntak bs email ke potacol@gmail.com.

Marvin Herera said...

Salam kenal Mas Saefudin,
kebetulan saya sebentar lagi akan jadi pendatang baru di Samarinda untuk penempatan tugas dr kantor.
Nah salah satu yg cari itu adalah spot mancing, browsing dan ketemu blog mas saefudin.
Mas, kalau boleh tau, biaya sewa perahu untuk mancing yang trip tenggiri pertama dan trip yang spot patok ampat itu kisaran berapa mas sewa perahunya?? dan muat untuk berapa orang perahu tsb??
Semoga berkenan membalas pertanyaan saya mas, dan kalau boleh saya minta no hp mas saefudin barangkali ada trip mancing lagi dan butuh peserta tambahan jadi saya bisa daftar ikutan.

Trims - Marvin/dari JKT

//* Autolink *//