Kesyukuran yang membawa berkah

Seberapa pentingkah sebuah kesyukuran kita pada Sang Pencipta?

Apa hanya sekedar ucapan belaka? Atau cukup dilakukan dengan suatu ritual yang sudah lama dipertahankan seperti mengundang ibu-ibu pengajian; menyediakan makanan; dan semacamnya. Cukupkah?

Sebenarnya apa sih yang menjadi hal paling penting dan utama yang menunjukkan bahwa kita dipandang sebagai hamba-Nya yang bersyukur???

Saya pernah melihat sebuah status facebook teman yang isinya begini, "Awan seringkali berbohong, mendung tetapi tidak memberikan hujan, tidak mendung tetapi turun hujan deras"



Sekilas, kesan yang ditangkap dari status tersebut yaitu berupa penyalahan pada awan yang "berbohong". Kalau kita tarik lebih dalam, maka akan dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kalimat itu menunjukkan "kurang bersyukur". Hal ini kerap terjadi di kehidupan nyata di daerah pertanian, suatu hari para petani diberi hujan yang cukup lama dalam beberapa hari, besok-besoknya banyak yang mengeluh kenapa hujan terus, dan minta panas. Allah mendengar pintanya dan dikabulkan, kemudian diberi musim kemarau yang cukup panjang, setelah sekian lama kemarau dengan panasnya cuaca, mengeluh lagi karena ingin diberikan hujan.
Jadi yang ada mengeluh dan mengeluh. Pantaskah kita sebagai manusia yang sudah diberikan segalanya oleh Allah Subhanahu Wata'ala, mengeluhkan pemberian-Nya di setiap keadaan?? (renungkan dan instropeksi diri!)

Padahal kalau kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat yang lebih banyak lagi sebagaimana janji-Nya dalam QS. Ibrahim : 14,
"....barangsiapa yang bersyukur makan akan Aku tambahkan nikmat, tetapi barangsiapa kufur (tidak bersyukur) atas nikmat, sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih." (QS. Ibrahim:14)
 Kasus petani yang sering mengeluh dan minta hujan saat panas berkepanjangan sebetulnya akan lebih indah bersyukur atas yang diberi Allah. Mungkin baginya panasnya kemarau kurang dibutuhkan, tetapi ada sebagian besar petani di belahan bumi yang lain yang membutuhkan hujan sehingga harus digilir. Saya yakin suatu saat Allah akan memberikan hujan tepat pada waktunya. Karena kalau hanya khawatir tanaman pertaniaanya akan mati atau kurang subur, mudah saja bagi Allah untuk melakukannya. Bisa saja petani beranggapan akan mati karena tidak ada hujan yang datang dan menyirami tanamannya. Lalu dimanakah Allah dalam kehidupan ini?? Ini sudah menyangkut persoalan akidah memang. Jadi, kalau sudah yakin akan Kekuasaan Allah, para petani tak akan pernah merasa khawatir tanaman akan mati jika hujan tak kunjung datang; para pekerja tak akan khawatir tidak mempunyai pekerjaan karena di-PHK karena yang memberikan rezeki hakikatnya Allah SWT; guru, pengusaha, dan semua orang yang mengaku beriman tak akan pernah merasa khawatir akan hidup ini. Persoalan rezeki, Allah telah mengaturnya, kita hanya perlu untuk menjemput dengan ikhtiar dan do'a. Bersyukurlah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya untuk kita. Bahkan bukan hanya di dunia, di akhirat orang yang bersyukur akan mendapatkan kenikmatan surga, karena beryukur merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa.

Caranya beryukur gimana?
Apa seperti di tulisan paling awal??, mengadakan "syukuran" mengundang ibu-ibu pengajian;menghidangkan makanan; dibagikan kepada tetangga.
Sebetulnya, tidak melulu seperti cara diatas...

Menurut para ulama, yang paling pokok dan penting adalah bahwa beryukur itu dengan cara memanfaatkan dan mendayagunakan segala pemberian Allah untuk hal-hal yang dikehendaki-Nya.
Jadi beryukur bukan hanya persoalan menghidangkan makanan yang terkenal dengan kata "syukuran". Bukan berarti tidak boleh mengadakan hal seperti itu, tetapi ada yang lebih utama yang terkandung dalam kata syukur, yaitu yang disebutkan diatas menurut para ulama. "Syukuran" juga baik, karena masuknya sedekah dalam bentuk makanan.

Bersyukur menurut para ulama dapat diterjemahkan seperti ini: kita diberi tangan oleh Allah, gunakanlah untuk hal-hal yang dikehendaki-Nya, contoh menafkahi keluarga, mengaji, membuat kerajinan yang halal. Jangan digunakan untuk mencuri, merampok, menjambret, dan lain-lain yang dilarang Allah.

Kita diberi kaki, gunakanlah sebagaimana perintah Allah: mendatangi pengajian/majelis taklim dan hal-hal lainnya.

Kita diberi mata, gunakanlah untuk kebaikan: membaca Al-Quran, melihat ciptaan-Nya untuk kemudian menyukuri nikmat-Nya.

Kita diberikan semuanya oleh Allah, gunakanlah untuk hal-hal yang diperintahkannya dengan pemberian yang diamanahi pada kita.

Ada juga sikap yang harus dilakukan saat mendapatkan nikmat, yaitu mengucapkan "Alhamdulillah", sujud syukur saat mendapatkan keajaiban, bersedekah, infak, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Pada akhirnya, kesyukuran kita akan kembali kepada diri kita masing-masing. Kalau kita beryukur, Allah akan menambah nikmat kita. Jika tidak bersyukur, azab Allah sangalah pedih. Azabnya bisa langsung di dunia dan bisa ditunda hingga di akhirat kelak, naudzubillah.

Semoga kita semua digolongkan kedalam golongan hamba-Nya yang bersyukur. Aamiin.

Wallahu a'lam bishowab.


Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//