Dibalik nama bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan

Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, begitulah namanya. Terletak di kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Tak ada satupun warga Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan, yang tidak mengenal kemegahan bandara internasional satu-satunya di Kaltim ini. Bandara yang melayani ribuan penumpang dari dan keluar Kaltim ini, merupakan bandara kebanggaan masyarakat Kaltim, khususnya warga Balikpapan. Bagaimana tidak, bandara ini berdiri begitu megah dan sudah menerapkan standar internasional. Dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas yang sangat lengkap, untuk memberikan kepuasan para pengguna berbagai maskapai penerbangan nasional maupun internasional. Tercatat maskapai Malaysia Airlines pun membuka penerbangan dari Balikpapan. Serta sejumlah maskapai internasional lainnya.

Sejarah bandara dan perubahan nama 
Namun, tahukah Anda bahwa dulunya, bandara termegah di timur Indonesia ini bernama Bandara Sepinggan. Nama "Sepinggan" sendiri diambil dari nama kawasan di sekitar areal bandara tersebut. Jika ditelusuri lebih jauh, asal kata sepinggan adalah dari kata "satu pinggan", pinggan diartikan piring besar, sehingga sepinggan memiliki makna bahwa terjalinnya kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat Balikpapan. Kata "sepinggan" berasal dari bahasa Paser, yaitu suku yang mendiami tepi-tepi Teluk Balikpapan hingga Teluk Adang, Teluk Adang, dan hulu pegunungan Meratus.

Bandara Sepinggan mulai beroperasi sejak tahun 1920. Hingga dimulainya pengembangan bandara mulai Maret 2013, dibawah kepemimpinan gubernur Kaltim saat itu, Awang Faroek Ishak, terbersit wacana untuk merubah nama bandara ini. Adapun nama yang telah dipikirkan sebagai opsi yaitu nama Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Sejak diwacanakannya perubahan nama bandara ini, menjadi pro-kontra selama beberapa waktu. Saat itu, warga Balikpapan pun lantas melakukan berbagai aksi unjuk rasa, menolak perubahan nama bandara. Alasannya tidak rela jika kata Sepinggan hilang dari identitas bandara megah tersebut. Karena akan menjadi kebanggan tersendiri dengan nama Sepinggan. 

Selain karena alasan letak bandara dan local wisdom, warga tidak mengenal nama Sultan Aji Muhammad Sulaiman, yang digadang-gadang akan menjadi nama baru bandara. Namun pada akhirnya perubahan nama pun tetap dilakukan, setelah ditandatangani walikota Balikpapan, Rizal Effendi. 

Nah, siapa sebetulnya Sultan Aji Muhammad Sulaiman? Mengapa namanya dijadikan nama bandara termegah di bagian timur Indonesia ini? 

Sultan Aji Muhammad Sulaiman: Raja Kutai Kartanegara
Aji Muhammad Sulaiman lahir pada 8 Februari 1838, dengan nama Aji Biduk atau Pangeran Umar. Merupakan putra ke-8 dari Sultan Aji Muhammad Salehuddin, dengan istrinya Aji Kinchana. Dia merupakan Sultan Kutai Kartanegara ke-18 bergelar Sri Paduka Sultan Aji Muhammad Sulaiman Al-'Adil Khalifatul Mu'minin bin Aji Muhammad Salehuddin. Dia diangkat menjadi sultan pada 19 Oktober 1850, setelah wafatnya sang ayah Aji Muhammad Salehuddin.
Foto Sultan Aji Muhammad Sulaiman dan pengiringnya. (sumber: wikimedia.org)

Beliau terkenal raja yang arif, bijaksana, dan tekun mengajarkan agama Islam. Atas usaha beliaulah, syiar Islam menyebar di kawasan Kutai. Setiap tahun Ia selalu menghajikan rakyatnya ke Mekkah. Perhatiannya pada agama, mendorongnya untuk membangun kerja sama dengan Kerajaan Mekkah. Para ulama dijadikannya sebagai penasihat kerajaan sepanjang pemerintahannya.

Pada saat pemerintah Hindia-Belanda menempat J.Wager sebagai Assisten Residen Belanda di Samarinda tahun 1853, Ia kemudian menjalin kerja sama dalam pembangunan pemerintahan. Dan kemudian dibukalah pertambangan batu bara di Kutai, tepatnya di Batu Panggal oleh insinyur asal Belanda, J.H. Menten. Inilah awal mula meningkatnya kekayaan kesultanan Kutai Kartanegara. Dan sampai dengan sekarang, pertambangan batu bara masih dilakukan di beberapa site/lokasi di Kutai Kartanegara. Bahkan saat itu, nama kesultanan Kutai Kartanegara semakin terkenal. Dari hasil royalti pengeksploitasian tambang tersebut, digunakan untuk membangun kesultanan.

Foto Sultan Aji Muhammad Sulaiman (duduk;kanan) bersama putra mahkota dan menteri kerajaan (sumber:wikimedia.org)
Sultan Aji Muhammad Sulaiman (seumber:wikimedia.org)
Sekarang pun, kegiatan eksploitasi batu bara masih berjalan di Kutai Kartanegara. Ini yang menjadikan Kutai Kartanegara menjadi salah satu kabupaten/kota terkaya di Indonesia. Luar biasa, subhanallah. Bayangkan, sejak dibukanya pertambangan pertama, tahun 1850-an, sampai dengan sekarang tahun 2015, jika dihitung mundur maka sudah menginjak tahun ke-160-an. Selama 160an tahun tersebut, kekayaan sumber daya alamnya masih terasa oleh penduduk Kutai Kartanegara. Ini adalah anugerah tak terhingga dari Sang Maha Pencipta.

Lalu sebenarnya apa jasanya bagi Balikpapan? Kenapa namanya jadi nama bandara? Jawabannya adalah karena atas pembukaan pertambangan yang terjadi kemudian meluas hingga ke Balikpapan. Areal tambang membentang dari Kutai Kartanegara melewati Samarinda, hingga ke Balikpapan. Bukan hanya tambang batu bara, selain itu juga pertambangan minyak semakin berkembang hingga sekarang. 

Dan dengan perkembangan ekonomi tersebut, kemudian tercetuslah untuk membangun bandara di kawasan Pantai Sepinggan tersebut. Maka, bernagkat dari historis tersebut, gubernur Awang Faroek, melihat hal ini sebagai salah satu cara untuk memberikan penghormatan dan ucapan terima kasih bagi segala jasa Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman masa kini
Saat ini, kita yang sering bepergian dari dan ke daerah Balikpapan, ataupun yang ke Samarinda, Bontang, dan sekitarnya, bisa merasakan pelayanan bandara ini. Yang dari luar pulau Kaltim bisa mengunjungi saudaranya, begitupun sebaliknya, yang dari Kaltim bisa bepergian ke luar Kaltim. Ini semua tentu tidak terlepas dari jasanya para pendahulu, salah satunya Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Yang punya kewenangan saat itu untuk memajukan daerah Kaltim, Kutai Kartanegara khusunya. Kita patut bersyukur pada Allah atas ini semua. Caranya dengan menjaga dan merawat bandara ini. Tidak membuang sampah sembarangan. Tidak mencoret-coret dan merusak fasilitas bandara. Meskipun saya bukan asli Balikpapan atau Samarinda, ataupun Kutai Kartanegara, sebagai seorang warga yang baik, wajib untuk merawat fasilitas umum. Dimanapun kita berada, tolong jagalah ketertiban dan kebersihan. 

Mungkin kita tidak bisa memberikan kontribusi besar bagi daerah yang kita tempati, terlebih dimana kita tumbuh besar dan berkembang disana, maka setidaknya jagalah dengan sebaik-baiknya. Jika tak bisa membuat, setidaknya tidak merusak. Kata pepatah begitu.

Sejauh ini, selama 2 tahun lebih saya dan keluarga Alhamdulillah bisa merasakan kenyamanan fasilitas bandara ini, dan puas dengan pelayanannya. Semoga tetap terjaga dan semakin meningkatkan layanan terbaik bagi para pengunjung. Saya yakin, beberapa dari kita pernah singgah di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Saat menulis tulisan ini, saya punya keinginan dan harapan dari rekan-rekan sekalian, khususnya yang sering ke bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, bisa mengenal lebih jauh tentang Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Sang pemilik nama bandara megah di Balikpapan, Kalimantan Timur ini. Miris bukan, jika sebulan sekali singgah ke bandara ini, tapi nggak pernah tahu siapa nama tersebut. 

Bung Karno pernah bilang, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Jangan sekali-kali melupakan sejarah".

Jadi, jika suatu saat mampir ke bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, ingatlah beliau, dengan segala jasanya. Terima kasih, Sultan.

Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//