Konsep Diri


 


Anis Matta dalam bukunya  Delapan Mata Air Kecemerlangan memaparkan bahwa konsep diri terbentuk melalui proses internal yang mempertemukan antara persepsi kita tentang diri kita sendiri; dengan persepsi orang lain tentang diri kita; dan dengan kondisi akhir yang kita inginkan bagi diri kita sendiri.

Yang pertama menyangkut pemahaman subyektif kita tentang kondisi objektif diri kita atau disebut istilah Aku-Diri. Yang kedua menyangkut pemahaman subyektif orang lain tentang kondisi objektif diri kita atau disebut dengan Aku-Sosial. Yang ketiga menyangkut keinginan atau visi kita tentang diri kita sendiri di masa yang akan datang, atau proyeksi masa depan diri kita disebut dengan Aku-Ideal.

Dari ketiga tingkatan konsep diri tersebut (Aku-Diri, Aku-Sosial, dan Aku-Ideal), terdapat sebuah pertemuan yang akan menentukan kepribadian diri seseorang. Sederhananya sebagai berikut:
  • Jika Aku-Diri mendominasi “Aku” lainnya, maka ia akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi yang cenderung kepada keangkuhan, sikap realistis yang cenderung pragmatis, sikap tertutup terhadap orang lain, narsisme, egoisme, dan mungkin sangat mandiri, tetapi tidak mampu atau sulit bekerja sama
  • Jika Aku-Sosial mendominasi, maka seseorang akan kehilangan jati dirinya yang asli, sangat tergantung kepada dukungan lingkungan, tidak bisa mandiri, biasanya minder, dikendalikan secara eksternal oleh lingkungannya, dan bisa bekerja sama, tetapi tidak bisa berpengaruh
  • Jika yang dominan adalah Aku-Ideal, maka seseorang akan cenderung menjadi pemimpi, tidak realistis, biasanya bersemangat, tetapi juga tidak berdaya, retoris, tetapi tidak punya rencana aksi yang riil, optimis, tetapi tidak produktif, dan bisa bekerja sama, tetapi tidak punya bidang kontribusi yang jelas.
Keseimbangan itulah yang dikatakan oleh Sayyidina Abu Bakar Assidiq dalam salah satu do’anya,
“Ya Allah, ampunilah aku dari hal-hal yang orang lain tidak mengetahuinya, tetapi jadikanlah aku lebih baik dari sangkaan buruk orang lain terhadap diriku.”
Lalu bagaimana supaya kita bisa menjadi seorang manusia muslim yang dikehendaki oleh Al-Quran??? Pertanyaan ini seyogianya muncul dalam benak kita tatkala menyadari diri kita saat ini.  

Anis Matta kembali menjawab pertanyaan besar ini melalui sebuah buku yang berjudul Model Manusia Muslim Abad XXI pada bab Konsep Diri Manusia Muslim : Perjalanan Menemukan Jati Diri halaman 31. Pada halaman tersebut Anis Matta menyatakan bahwa Aku-Diri dan Aku-Sosial adalah variabel, sedangkan standarnya adalah nilai Islam. Hal ini harus dijadikan standar dan pedoman yang membimbing diri kita. Oleh karena itu, tingkatan diri paling ideal adalah saat pengadaptasian antara diri kita dan nilai itu semakin klop. Itulah yang harus kita usahakan.

Sehingga, kita akan mendapati diri kita menjadi pribadi yang mampu mengembangkan diri kita (Aku-Diri) tetapi dibatasi oleh nilai-nilai Islam. Begitu juga kita akan selalu mendapatkan penilaian masyarakat tentang kita (Aku-Sosial) yang kita jadikan sebagai masukan-masukan untuk perbaikan diri. Karena pada dasarnya masyarakat pun menilai selalu bernafaskan hukum-hukum positif, yang kalau kita tarik ke akarnya merupakan nilai-nilai Islam yang Allah tebarkan di muka bumi ini. Nah, sekarang sudah jelaskan? Semoga kita mendapatkan bimbingan dari Allah SWT dalam menapaki kehidupan ini, sehingga menjadi hamba-Nya yang digolongkan ummat Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam bishowab.
Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//