5 Persamaan Samarinda dengan Jakarta

Setelah dua tahun berdomisili di Samarinda yang dijuluki kota tepian, beberapa hal sudah semakin familiar. Tempat-tempat wisata sudah banyak yang dikunjungi. Tiap sudut jalan hampir saya hapal. Hal-hal yang baik dan buruk dari kota ini sedikit banyak sudah bisa saya kenali. Mungkin inilah yang ingin saya tuangkan di blog ini. Ada 5 persamaan antara Samarinda dengan Jakarta:

1. Macet
Kemacetan di Samarinda melambungkan pikiran saya ke kota Jakarta. Sebagai salah satu kota metropolitan di Kalimantan Timur, macet menjadi salah satu ciri yang diadopsi dari Jakarta. Begitu kira-kira anekdotnya. Kemacetan di Samarinda seringkali terjadi di beberapa titik yang ada di tengah-tengah kota. Terutama seperti di Simpang empat Sempaja, simpang empat Juanda-Kadrie Oning-AW Syahranie, Simpang empat Juanda-Antasari-Air Hitam, pertigaan Jl. Slamet Riyadi - Jl. Antasari (tepian), simpang empat Lembuswana, pertigaan Jl. Agus Salim menuju Jl. Abul Hasan. Dan di beberapa titik yang lain. Baru-baru ini sedang dibangun beberapa proyek untuk mengurai kemacetan ini. Diantaranya pembangunan fly-over yang menghubungkan Jl. Juanda - Jl. AW Syahranie dan fly-over Jl. Slamet Riyadi.

2. Banjir
Pertama kali menginjakkan kaki di Samarinda pada bulan September 2013. Tak lama, selang sekitar 4 hari, saya langsung terjebak banjir setinggi paha saat mau pulang ke rumah. Kesan awal yang jelek di kota ini, yang membuat saya shock waktu itu. Juga membuat saya cukup kesal. 

Informasi dari warga, peristiwa banjir di Samarinda ternyata terjadi baru-baru saja. Sebelum tahun 2012, banjir dengan intensitas besar jarang terjadi. Meskipun dalam sejarahnya pernah terjadi 1 kali banjir besar. Namun, sejak tahun 2012 hingga sekarang, Samarinda mulai makin sering dilanda banjir, terutama saat diguyur hujan deras. 

Jika diamati, faktor utama penyebab banjir di Samarinda lebih kepada tata kota yang buruk. Secara geografis, kota Samarinda ini dialiri oleh sungai-sungai kecil yang akhirnya bermuara ke sungai Mahakam. Jika terjadi kesalahan kebijakan dalam menentukan lokasi bangunan, maka akibatnya adalah banjir yang sekarang ini sering dirasakan oleh warga Samarinda. Contohnya adalah pembangunan Stadion Madya Sempaja. Dimana lahan yang dijadikan lokasi stadion tadinya adalah rawa. Terbukti pasca pembangunan stadion, di titik sekitar jalan ini selalu banjir jika hujan turun cukup lama dengan intensitas besar. Padahal dulunya sebelum ada stadion ini tidak pernah banjir. Lalu disusul di jalan sekitar Mal Lembuswana. Sejak 2012, banjir tidak pernah hilang sampai sekarang di kedua titik ini. Hingga saya membuat tulisan ini. 

Selain dikarenakan kesalahan lokasi pembangunan, faktor lainnya adalah konstruksi drainase yang buruk. Sehingga pada saat hujan turun deras dan lama, air akan meluap ke jalan. Yang kemudian menjadi banjir, yang umumnya dikenal banjir limpasan (RunOff).

3. Tempat belanja
Hampir semua mall dan tempat belanja di Samarinda selalu penuh setiap harinya. Apalagi di hari libur atau weekend, sudah dipastikan akan dibanjiri oleh para pengunjung. Di Samarinda sendiri ada sekitar 4 mall besar yang selalu ramai pengunjung. Yaitu Mal Lembuswana, Samarinda Central Plaza, Plaza Mulia, dan yang terbaru Big Mall Samarinda. Selain empat mal yang tergolong besar itu, di setiap tempat atau kelurahan pasti ada minimarket. Seperti Eramart, Alfamart, Indomart, dan minimarket lokal lainnya. Pernah kejadian, karena saking banyaknya minimarket ini, di beberapa tempat pernah diprotes oleh warga. Bahkan sampai disegel segala. Hingga akhirnya ada beberapa minimarket yang mangkrak pasca diprotes oleh warga setempat. Memang kalau terlalu banyak minimarket bisa mematikan usaha warung kelontong atau warung kecil milik warga setempat. Apalagi kita sudah hapal betul, dalam radius 1 km pasti ada minimarket. Dalam hal ini, pemerintah kota dan kelurahan setempat harus bijaksana dalam memproses perizinan pembangunan minimarket ini. Jangan sampai warga setempat tercekik karena berjamurnya minimarket-minimarket ini.

4. Gaya hidup
Jakarta yang terkenal dengan kehidupan malamnya, ternyata menular ke beberapa kota besar di Indonesia. Terutama mulai tahun 2000-an. Saat perkembangan teknologi begitu pesat. Tak terkecuali Samarinda yang terkena dampaknya. Penyebaran berbagai hal di dunia saat ini tidak mengenal batas. Hal ini tidak lain dikarenakan oleh teknologi. Dengan teknologi, segala informasi bisa dengan sangat cepat menyebar. Lintas kota bahkan lintas negara. Boleh jadi saya yang berada di Indonesia bisa menganut budaya hidup orang Jepang dengan mengenal terlebih dahulu via internet. 

Maka, budaya yang ada di ujung Jakarta akan dengan sangat mudah ditiru oleh anak-anak muda yang ada di Samarinda. Terlebih harga handphone saat ini bisa dibilang cukup terjangkau, yang memungkinkan semua orang bisa memilikinya. 

Akibatnya??? Gaya hidup hura-hura dan senang-senang, sudah menjadi hal yang lumrah diperlihatkan oleh anak-anak remaja dan muda-mudi di Samarinda. Kehidupan anak remaja dan anak muda yang tergolong mengedepankan kesenangan semata sangat terasa. Ini yang sangat mengkhawatirkan. Banyaknya tempat hiburan sejenis pub, cafe, dan diskotik menjadi sarana hiburan beberapa anak muda. Bukan hal yang asing lagi buat warga Samarinda sejumlah tempat hiburan malam bernama Celcius, Crown, Muse, dan lain sebagainya. Beberapa artis, penari, disc jockey-nya pun sering didatangkan dari Jakarta.

Kenapa mengkhawatirkan? Seperti kita tahu, pub, cafe, diskotik atau tempat hiburan malam identik dengan narkoba. Sebagian besar pengguna narkoba ditemukan di tempat hiburan malam. Tak bisa dihindarkan fakta itu. Sebagai gambaran, secara nasional, propinsi Kalimantan Timur menempati peringkat ke-2 terbesar pengguna narkoba setelah Jakarta (http://news.liputan6.com/read/2367732/narkoba-di-kaltim-duduki-peringkat-2-nasional).
Sekitar 3,1% atau 97 ribu jiwa. Meskipun ini lingkupnya di Kaltim, Samarinda tetap termasuk salah satu penyumbang terbesar di dalamnya.

5. Banyak orang pendatang
Hampir sama dengan kota Jakarta, Samarinda termasuk kota yang jadi pilihan para pendatang, baik dari dalam pulau Kalimantan maupun luar pulau Kalimantan. Lebih banyak dari Jawa, sekitar 60%. Selebihnya terdiri dari suku Banjar, Bugis, Sunda, Batak, dan lain-lain. Untuk yang satu ini saya termasuk yang mewarnai sebagai orang pendatang. 
Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

3 comments:

natan neil said...

Dimna bang, terjadi penolakan pembangunan minimarket di samarinda??

natan neil said...

Dimna bang terjadi penolakan bangunan minimarket??

Muhamad Saefudin said...

daerah arisco, sambutan @natan neil

//* Autolink *//