Aku anak Mahakam, Wal!

Tak terasa, 2 tahun sudah saya menginjakkan kaki di tanah borneo, tepatnya Samarinda. Sejak itu udara yang kuhirup adalah udara Mahakam. Air yang kuminum, air Mahakam. Sinar yang kurasakan hangatnya, sinar mentari Mahakam. Mungkin, darahku saat ini darah Mahakam.

"Aku anak Mahakam, wal!"

Artinya "Saya anak Mahakam, sob!". Kata "Wal" memiliki padanan kata seperti "Sob", "Bro", kalau dalam bahasa Indonesia.

Ada teman kantor yang bilang sekali waktu ke saya, "Kalau kamu udah minum air Mahakam, bakal betah disini. Atau kalau nanti ke pulau Jawa, pasti pengen balik lagi kesini!".

"Iyakah?!", jawabku, yang sudah sedikit punya kosakata orang Samarinda dan sedikit mirip dialek warga sini.

Hmmm. Memang kalau kita sudah banyak kenalan, teman, sahabat, dan partner kerja di suatu tempat, rasanya seperti di tempat sendiri. Nggak merasa asing lagi. Di awal, rasanya seperti asing dan seperti layaknya pendatang yang bingung kalau mau kemana-mana dan mau ngapa-ngapain. Tapi seiring perjalanan waktu, banyak ketemu tetangga, rekan kerja, kenalan di lapangan futsal, saat jogging, atau bahkan saat makan di warung, jadi menambah kenalan. 

Pernah, baru beberapa hari tinggal di Samarinda, pas jalan-jalan ke suatu area dekat kampus Unmul, namanya jalan Pramuka. Saya liat ada tukang bubur ayam, tulisannya "Bubur ayam Bandung". Saya beli bubur ayam, dan sedikit basa-basi saya tanya, darimana asalnya. Dia jawab, "Ti Garut, ari Aa ti mana?!" (Dari Garut, kalau Aa-sebutan seperti bang-dari mana?") Dia langsung jawab pakai bahasa Sunda.

"Abdi ti Sumedang (saya dari Sumedang). Kalau ketemu tetangga satu daerah di kota orang, terlebih saya yang baru pindah, pastinya seneng banget. Bisa ngobrol, serasa ada teman. (maaf bukan rasis ya,hehe). Semenjak itu, sering nanya-nanya kabar via sms, atau main ke pangkalannya si emang tukang bubur ayam tadi. Dan selain tukang bubur ayam juga, baru saya tahu, banyak juga perantau dari luar kota Samarinda. Ada dari Jawa, Sulawesi, Sunda, Lombok, Sumatera, dan lain-lain. Namun untuk kota Samarinda sendiri, menurut cerita dari warga atau rekan kerja, sebagian besar pendatang dari suku Jawa, sekitar 60% dari total penduduk. Dan 30% berasal dari Sulawesi, sisanya dari berbagai daerah di Indonesia. Ini menurut warga yaa. Memang saya akui, dimana-mana, setiap jalan-jalan ketemu orang Jawa. Naik angkot, supirnya dari Jawa, meski sebagian ada dari Banjar. Naik taksi dari Samarinda-Bandara Sepinggan, Balikpapan, saya tanya asal supirnya, dari Blitar. Dan bahkan di Samarinda, ada satu kelurahan/desa, namanya Kampung Jawa. Hehehe.

Itulah salah satu ciri khas negeri kita, Indonesia. Dimana kita tinggal, pasti kita temui saudara-saudara kita yang berasal dari suku yang berbeda, agama yang berbeda, bahasa yang berbeda, namun kita tetap satu. Yaitu Indonesia. Bhineka Tunggal Ika. 

Saya sendiri bangga bisa merantau ke pulau Kalimantan. Yang dulu, waktu masih kecil, cuma denger ceritanya aja, Kalimantan penuh dengan hutan belantara. Eeh, ternyata ke Samarinda, gak jauh kondisinya dari kota Jakarta. Tapi mungkin, kalau hutannya, ya memang masih banyak yang belantara kali yaa, atau perawan. Dalam arti belum terjamah manusia. Hehehe.

I love Borneo. I love Indonesia. 


Salam hangat, Wal!




Share on Google Plus

About Muhamad Saefudin

Saya hanyalah seorang penikmat blog dan pembelajar kehidupan. Semoga pembelajaran kehidupanku bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Selamat membaca dan belajar dari kehidupan.

0 comments:

//* Autolink *//